CYRUSTIMES, YOGYAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Asian Development Bank (ADB) menggelar pertemuan ASEAN+3 Bond Market Forum (ABMF) 2026 untuk mendorong pengembangan keuangan berkelanjutan di Indonesia dan Asia serta memperkuat pasar obligasi berdenominasi mata uang lokal.
Direktur Eksekutif Kelompok Spesialis Pasar Modal OJK, Retno Ici menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan rangkaian kegiatan pertemuan ABMF ke-45 di Yogyakarta, Senin (2/2/2026). Pertemuan ini bertujuan mendorong integrasi pasar obligasi ASEAN+3 melalui standardisasi dan harmonisasi regulasi, praktik pasar, serta infrastruktur transaksi obligasi lintas batas.
“Kehadiran bersama regulator, pelaku pasar, investor, akademisi, serta perwakilan organisasi internasional dalam konferensi ini mencerminkan komitmen bersama untuk mendorong pasar modal yang tangguh, inklusif, dan berorientasi ke masa depan,” kata Retno Ici.
OJK telah melaksanakan berbagai inisiatif regulasi keuangan berkelanjutan di pasar modal. Salah satunya melalui penerbitan Peraturan OJK Nomor 18 Tahun 2023 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Bersifat Utang dan Sukuk Berlandaskan Keberlanjutan.
Peraturan tersebut memperluas cakupan obligasi berkelanjutan pada aspek lingkungan, aspek sosial, dan keberlanjutan lainnya. Publikasi Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia menjadi penggerak utama dalam menyelaraskan proyek-proyek nasional dengan standar keberlanjutan internasional.
OJK mencatat hingga akhir Desember 2025, nilai outstanding obligasi dan sukuk korporasi berkelanjutan mencapai Rp54,94 triliun atau setara USD3,28 miliar. Angka ini mencakup kategori green, social, sustainability, dan sustainability-linked.
