Estimasi waktu baca: 6 menit

Ikan mujair berasal dari Afrika bagian tenggara, tetapi namanya melekat pada Mbah Moedjair dari Blitar

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Ikan mujair menjadi salah satu ikan konsumsi yang sangat akrab di meja makan masyarakat Indonesia. Namun, di balik namanya yang terdengar sangat lokal, ikan ini menyimpan perjalanan panjang lintas benua: dari Afrika bagian tenggara, masuk ke Jawa, lalu dikenal luas melalui kisah Mbah Moedjair dari Blitar.

Secara ilmiah, ikan mujair dikenal dengan nama Oreochromis mossambicus atau Mozambique tilapia. Spesies ini berasal dari kawasan Afrika bagian tenggara, terutama wilayah aliran Zambezi bagian bawah, Shire bagian bawah, hingga dataran pesisir dari Delta Zambezi sampai Algoa Bay. FishBase mencatat ikan ini juga menyebar ke sistem Limpopo dan sejumlah kawasan Afrika selatan, lalu diperkenalkan secara luas ke berbagai negara untuk kepentingan budidaya. (FishBase)

Advertisement

FAO menempatkan Oreochromis mossambicus sebagai salah satu spesies tilapia penting dalam perikanan dan akuakultur. Ikan ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi di perairan tawar maupun payau, sehingga mudah dibudidayakan dan cepat menyebar ketika dilepas ke lingkungan baru. (FAOHome)

Karena daya adaptasi itulah, mujair kemudian menjadi ikan penting di banyak negara tropis. Namun, kemampuan menyebar cepat juga membuat spesies ini di sejumlah tempat dipandang berisiko secara ekologis karena dapat bersaing dengan ikan lokal.

Bukan Asli Indonesia

Meski namanya sangat melekat dengan masyarakat Indonesia, mujair bukan ikan asli Nusantara. Nama lokal “mujair” justru berasal dari sosok Moedjair atau Mbah Moedjair, warga Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Advertisement

Dalam literatur ilmiah perikanan, Oreochromis mossambicus disebut sebagai Mozambique tilapia. Spesies ini telah lama dikenal di Afrika sebelum populer di Indonesia. FishBase menyebut ikan ini banyak diperkenalkan untuk akuakultur dan telah menetap di alam liar pada berbagai negara. (FishBase)

CABI Digital Library juga mencatat Mozambique tilapia merupakan tilapia pertama yang tersebar luas sebagai ikan budidaya. Spesies ini disebut telah dipindahkan ke Pulau Jawa pada dekade 1930-an, kemudian menyebar cepat. (CABI Digital Library)

Temuan serupa muncul dalam kajian ilmiah tentang persebaran tilapia di Indonesia. Penelitian Veryl Hasan dan kolega pada 2019 menyebut pembentukan awal populasi tilapia di Jawa diyakini terjadi pada dekade 1930-an sebagai hasil pelepasan akuarium O. mossambicus. (neotropical.pensoft.net)

Advertisement

Artinya, secara biologis, ikan mujair berasal dari Afrika. Namun, secara sejarah sosial di Indonesia, nama dan popularitasnya tidak dapat dilepaskan dari Mbah Moedjair.

Kisah Mbah Moedjair di Blitar

Kisah yang paling dikenal menyebut Mbah Moedjair menemukan ikan tersebut di kawasan muara Sungai Serang atau Pantai Serang, Blitar selatan. Dari sana, ia membawa ikan itu ke lingkungan rumah dan mencoba memeliharanya.

Historia menulis, sekitar 1936, Moedjair dari Desa Papungan, Kanigoro, Blitar, pergi ke Teluk Serang. Ia membawa beberapa jenis ikan dan memeliharanya di kolam pekarangan. Salah satu jenis ikan ternyata berkembang cepat dan memiliki kebiasaan unik: menyimpan telur di dalam mulut hingga menetas. (Historia.ID)

Advertisement

Kemampuan ikan itu bertahan dan berkembang biak menarik perhatian warga. Dari proses itulah nama Moedjair kemudian melekat pada ikan tersebut. Dalam pengucapan masyarakat, nama itu berubah menjadi mujair.

Namun, kisah populer ini perlu ditempatkan secara hati-hati. Mbah Moedjair bukan “penemu spesies” dalam pengertian taksonomi ilmiah. Spesies Oreochromis mossambicus sudah dideskripsikan secara ilmiah oleh Peters pada 1852. Peran Mbah Moedjair lebih tepat disebut sebagai tokoh yang menemukan, mengadaptasikan, membudidayakan, dan memopulerkan ikan tersebut di Indonesia.

Dari Kolam Warga Menjadi Ikan Rakyat

Keberhasilan budidaya mujair di Blitar menjadi penting karena ikan ini mudah berkembang biak, relatif tahan terhadap kondisi lingkungan, dan dapat menjadi sumber protein murah.

Advertisement

Dalam konteks masyarakat pedesaan, mujair bukan hanya ikan konsumsi. Ia menjadi bagian dari ekonomi rumah tangga, kolam pekarangan, serta pola pangan masyarakat. Ikan ini mudah dipelihara dan dapat tumbuh dalam kondisi perairan yang tidak terlalu rumit.

Karakter reproduksinya juga khas. Mujair termasuk kelompok ikan yang mengerami telur di dalam mulut atau mouthbrooder. Sifat ini membantu meningkatkan peluang hidup anak ikan, sehingga populasi dapat bertambah cepat.

Kemampuan tersebut menjelaskan mengapa ikan ini cepat dikenal. Namun, karakter yang sama juga membuat mujair mudah menyebar di perairan umum dan berpotensi menekan ikan lokal jika tidak dikelola dengan baik.

Advertisement

Perjalanan Tilapia ke Asia

Dalam kajian akuakultur global, mujair merupakan bagian dari sejarah besar persebaran tilapia. Artikel ilmiah “From Africa to the world—The journey of Nile tilapia” mencatat Mozambique tilapia diperkenalkan ke Indonesia pada 1939 dan kemudian ke banyak negara Asia lain pada dekade 1950-an dan 1960-an. (Wiley Online Library)

Meski kemudian ikan nila atau Oreochromis niloticus menjadi spesies tilapia yang lebih dominan dalam produksi budidaya modern, mujair tetap memiliki posisi historis penting. Ia menjadi salah satu pintu awal pengenalan tilapia sebagai ikan budidaya di Indonesia.

Di Indonesia, nama mujair tetap bertahan sebagai nama pasar dan nama budaya. Bahkan ketika masyarakat umum sering mencampuradukkan mujair dan nila, keduanya sebenarnya berbeda spesies meski masih satu kelompok tilapia.

Advertisement

Mujair adalah Oreochromis mossambicus, sedangkan nila adalah Oreochromis niloticus. Nila kemudian lebih banyak dikembangkan dalam akuakultur intensif karena pertumbuhan dan produktivitasnya dinilai lebih unggul dalam banyak sistem budidaya.

Antara Warisan dan Risiko Ekologi

Popularitas mujair tidak hanya membawa manfaat. Dalam kajian konservasi dan ekologi, O. mossambicus juga dikenal sebagai spesies introduksi yang dapat berdampak pada keanekaragaman hayati lokal.

FishBase menyebut spesies ini telah banyak diperkenalkan untuk akuakultur, tetapi juga lepas dan menetap di alam liar di berbagai negara. Di beberapa tempat, ikan ini dilaporkan memberi dampak ekologis karena bersaing dengan spesies lokal. (FishBase)

Advertisement

Global Invasive Species Database juga mencatat Mozambique tilapia dapat menjadi ancaman bagi spesies asli melalui kompetisi makanan dan ruang sarang. (TANK)

Dengan demikian, sejarah mujair memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia adalah kisah keberhasilan adaptasi ikan konsumsi yang membantu kebutuhan protein masyarakat. Di sisi lain, ia juga menjadi pengingat penting bahwa introduksi spesies harus dikelola secara hati-hati agar tidak merusak ekosistem lokal.

Nama Lokal yang Mendunia

Nama mujair menunjukkan bagaimana sejarah lokal dapat melekat pada spesies global. Secara ilmiah, ikan ini berasal dari Afrika. Namun, dalam ingatan masyarakat Indonesia, ikan ini identik dengan Mbah Moedjair dan Blitar.

Advertisement

Pemerintah Kabupaten Blitar bahkan masih merawat ingatan terhadap sosok Mbah Moedjair. Dalam catatan Pemerintah Kabupaten Blitar, Mbah Moedjair disebut pernah menerima penghargaan dari Kementerian Pertanian RI pada 1951 dan penghargaan dari Executive Committee Indo Pacific Fisheries Council pada 1954. (Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan)

Penghargaan itu menunjukkan bahwa kontribusi Mbah Moedjair bukan sekadar legenda lokal. Ia diakui dalam sejarah perikanan karena perannya memperkenalkan ikan yang kemudian menjadi bagian dari pangan rakyat Indonesia.

Kesimpulan

Asal-usul ikan mujair tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu kalimat. Secara biologis, mujair adalah ikan Afrika, yakni Mozambique tilapia atau Oreochromis mossambicus. Spesies ini berasal dari Afrika bagian tenggara dan kemudian menyebar ke berbagai negara melalui aktivitas manusia, terutama budidaya.

Namun, secara sejarah Indonesia, mujair adalah kisah Blitar. Nama ikan ini hidup karena Moedjair, warga Papungan, yang memelihara, mengadaptasikan, dan memopulerkan ikan tersebut hingga dikenal masyarakat luas.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Advertisement