Estimasi waktu baca: 3 menit

Kemenkes mengingatkan pencegahan DBD perlu dilakukan sejak dari rumah melalui pemberantasan sarang nyamuk dan 3M Plus.

CYRUSTIMES, JAKARTA – Demam berdarah dengue atau DBD masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti itu perlu diwaspadai, terutama saat musim hujan dan masa pancaroba ketika genangan air mudah terbentuk.

Kementerian Kesehatan mengingatkan pencegahan DBD tidak cukup hanya mengandalkan fogging. Masyarakat perlu aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN melalui gerakan 3M Plus.

DBD merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Kemenkes menyebut penyakit ini masih menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat di Indonesia dan tingkat penyebarannya termasuk tinggi di Asia Tenggara.

Waspada Saat Musim Hujan

Risiko penularan DBD dapat meningkat ketika banyak genangan air di sekitar rumah. Tempat penampungan air, kaleng bekas, ban bekas, talang air, pot tanaman, hingga wadah kecil yang dibiarkan terbuka bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Kemenkes sebelumnya mengingatkan peningkatan risiko dengue dapat dipengaruhi musim hujan, perubahan iklim, dan kondisi lingkungan. Karena itu, warga diminta melakukan langkah antisipatif sejak dari rumah.

Langkah utama yang dianjurkan adalah 3M Plus. Gerakan ini meliputi menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

Jangan Tunggu Fogging

Fogging kerap dianggap sebagai solusi utama saat kasus DBD muncul. Padahal, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyelesaikan masalah jentik nyamuk di lingkungan.

Karena itu, PSN 3M Plus tetap menjadi langkah penting. Selain menguras dan menutup tempat air, warga juga dapat menggunakan obat antinyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi, memelihara ikan pemakan jentik, membersihkan lingkungan, memperbaiki saluran air, dan menaburkan larvasida pada tempat air yang sulit dikuras.

Pencegahan juga perlu dilakukan bersama. Jika hanya satu rumah yang bersih, tetapi lingkungan sekitar masih menyimpan banyak genangan, risiko nyamuk berkembang tetap tinggi.

Kenali Gejala DBD

Warga juga perlu mengenali gejala DBD sejak dini. Demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, nyeri di belakang mata, ruam, mimisan, atau muncul tanda perdarahan perlu diwaspadai.

Apabila demam tidak membaik atau disertai tanda bahaya seperti lemas berat, muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan, gusi berdarah, tangan dan kaki dingin, atau penurunan kesadaran, warga perlu segera mencari pertolongan medis.

Penanganan cepat penting karena DBD dapat memburuk dalam waktu singkat. Kemenkes juga menekankan pentingnya deteksi dini, penguatan tata laksana klinis, dan sistem rujukan untuk menekan risiko kematian akibat dengue.

Target Nol Kematian Dengue

Pemerintah menargetkan nol kematian akibat dengue pada 2030. Target itu membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Bagi daerah, pencegahan DBD perlu dilakukan secara konsisten sampai tingkat RT dan rumah tangga. Pemeriksaan jentik berkala, kerja bakti lingkungan, edukasi di sekolah, serta pelaporan cepat jika ada warga sakit demam dapat membantu menekan penyebaran.

DBD bukan hanya urusan fasilitas kesehatan. Penyakit ini berawal dari lingkungan tempat tinggal. Karena itu, menjaga rumah dan lingkungan tetap bersih menjadi langkah paling sederhana untuk mencegah nyamuk berkembang dan melindungi keluarga dari risiko demam berdarah.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.