Estimasi waktu baca: 6 menit

Apakah Pertalite dan Solar Bakal Naik?

CYRUSTIMES, JAKARTAHarga minyak dunia kembali berada di level tinggi. Minyak mentah Brent ditutup di US$108,75 per barel pada perdagangan Selasa, 15 September 2026, setelah naik sekitar 2,9 persen.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup di US$105,83 per barel, melonjak 4,38 persen.

Kenaikan tersebut kembali menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat Indonesia: apakah harga BBM seperti Pertalite, Solar, Pertamax hingga Dexlite akan kembali naik?

Untuk BBM bersubsidi, pemerintah sejauh ini memberikan jawaban tegas. Pertalite dan Solar subsidi dipastikan tidak mengalami kenaikan harga hingga akhir 2026.

Namun, lonjakan minyak global tetap membawa konsekuensi lain bagi Indonesia, mulai dari potensi peningkatan beban subsidi dan kompensasi APBN hingga tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi.

Mengapa Harga Minyak Dunia Kembali Naik?

Lonjakan terbaru dipicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global setelah terjadi gangguan di terminal ekspor Yanbu, Arab Saudi.

Reuters melaporkan serangan terhadap jalur East-West Pipeline Arab Saudi membuat aktivitas pengiriman dari Yanbu terganggu dan sejumlah kargo minyak menuju Eropa dibatalkan. Jalur tersebut memiliki peranan penting karena menjadi alternatif pengiriman yang menghindari Selat Hormuz.

Gangguan itu terjadi ketika perdagangan minyak global sebelumnya sudah menghadapi tekanan akibat konflik di Timur Tengah dan menurunnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz.

Produksi di sejumlah ladang minyak Libya juga dihentikan menyusul aksi protes, sementara serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dan Ukraina semakin memperbesar kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan pasokan.

Situasi tersebut membuat pasar bereaksi cepat.

Bahkan harga sejumlah kargo fisik minyak mentah di Eropa telah diperdagangkan melampaui US$130 per barel, meski harga tersebut berbeda dengan kontrak berjangka Brent yang menjadi salah satu acuan utama pasar dunia.

Pertalite dan Solar Dipastikan Tidak Naik

Di Indonesia, masyarakat pengguna BBM subsidi untuk sementara tidak perlu langsung mengaitkan Brent US$108 dengan kenaikan harga Pertalite.

Pemerintah telah memutuskan mempertahankan harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan kebijakan tersebut dipilih untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tingginya harga minyak dunia.

Pertamina Patra Niaga juga kembali menegaskan bahwa harga Pertalite dan Biosolar tidak mengalami kenaikan sampai akhir 2026, sesuai kebijakan pemerintah.

Dengan demikian, harga yang berlaku saat ini tetap:

  • Pertalite: Rp10.000 per liter
  • Solar subsidi: Rp6.800 per liter

Kebijakan menjaga harga BBM subsidi itu membuat lonjakan harga minyak dunia tidak langsung seluruhnya diteruskan kepada konsumen.

Namun, selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayarkan masyarakat pada akhirnya dapat meningkatkan kebutuhan subsidi maupun kompensasi pemerintah.

BBM Nonsubsidi Lebih Rentan Terdampak

Kondisinya berbeda pada BBM nonsubsidi.

Harga produk seperti Pertamax Turbo, Pertamax Green, Dexlite hingga Pertamina Dex lebih sensitif terhadap sejumlah parameter pembentuk harga, termasuk harga minyak internasional dan nilai tukar rupiah.

Pada September 2026, beberapa produk bahkan telah mengalami kenaikan dibanding Agustus.

Berdasarkan harga yang dipantau per 14 September 2026, harga Pertamax masih berada di Rp15.950 per liter, sedangkan Pertamax Turbo mencapai Rp19.600, Pertamax Green Rp19.150, Dexlite Rp23.700 dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter untuk acuan wilayah yang diberitakan.

Karena itu, jika harga minyak dunia bertahan di atas US$100 dalam waktu lama, ruang untuk penyesuaian harga BBM nonsubsidi menjadi semakin terbuka.

Namun, kenaikan harga minyak Brent pada satu atau dua hari perdagangan tidak otomatis berarti harga BBM Indonesia langsung berubah.

Penetapan harga tetap mempertimbangkan periode perhitungan, kurs rupiah, harga produk minyak, pajak serta kebijakan masing-masing badan usaha.

ICP Indonesia Sudah Naik ke US$89,43

Tekanan minyak global sebenarnya telah terlihat pada Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP).

Kementerian ESDM menetapkan rata-rata ICP Agustus 2026 sebesar US$89,43 per barel.

Angka itu melonjak US$7,75 dibanding Juli 2026 yang masih berada di US$81,68 per barel.

Sebagai perbandingan, APBN 2026 dibangun dengan asumsi ICP sebesar US$70 per barel.

Artinya, rata-rata ICP Agustus sudah berada sekitar US$19,43 per barel di atas asumsi APBN 2026.

Perlu dicatat, ICP tidak sama dengan Brent.

Brent merupakan salah satu benchmark minyak internasional, sedangkan ICP merupakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia yang ditetapkan pemerintah berdasarkan formula dan pergerakan pasar tertentu.

Karena itu, Brent US$108,75 tidak dapat langsung disebut sebagai ICP Indonesia US$108.

Meski demikian, kenaikan harga minyak internasional dalam jangka panjang dapat ikut mendorong ICP.

Beban Subsidi dan Kompensasi Sudah Rp233 Triliun

Lonjakan harga minyak menjadi semakin penting karena pemerintah telah mengeluarkan anggaran besar untuk menahan harga energi.

Kementerian Keuangan mencatat realisasi subsidi dan kompensasi hingga semester I 2026 mencapai sekitar Rp233 triliun, setara 52,1 persen dari pagu APBN.

Jumlah tersebut melonjak 44,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari total tersebut, sekitar Rp116 triliun berupa subsidi dan Rp116,9 triliun berupa kompensasi.

Kementerian Keuangan menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi pergerakan ICP, nilai tukar rupiah dan meningkatnya volume konsumsi barang bersubsidi.

Volume penyaluran BBM bersubsidi pada semester pertama 2026 bahkan meningkat sekitar 7,8 persen secara tahunan.

Dengan harga minyak global kembali menembus US$100, tekanan terhadap belanja energi berpotensi meningkat apabila level tinggi tersebut berlangsung lama.

Pemerintah Pernah Hitung Skenario Minyak US$100

Pemerintah sebenarnya telah mempersiapkan skenario kenaikan harga minyak.

Kementerian Keuangan pada April 2026 menyatakan perhitungan fiskal telah mempertimbangkan skenario harga minyak dunia mencapai US$100 per barel sampai akhir tahun.

Dalam skenario tersebut, pemerintah memperkirakan defisit APBN masih dapat dijaga sekitar 2,9 persen terhadap produk domestik bruto.

Pemerintah juga menyebut memiliki bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih atau SAL.

Masalahnya, harga Brent sekarang sudah berada di atas US$108 per barel.

Karena itu, faktor terpenting bukan hanya seberapa tinggi harga minyak dalam satu hari, tetapi berapa lama harga tersebut bertahan.

Jika kembali turun dalam waktu singkat, dampaknya terhadap rata-rata ICP dan APBN bisa lebih terbatas.

Sebaliknya, jika minyak bertahan di atas US$100 selama berbulan-bulan, tekanan terhadap anggaran subsidi, kompensasi energi dan biaya impor berpotensi semakin besar.

Apakah Pertalite Bisa Naik?

Berdasarkan kebijakan pemerintah saat ini, jawabannya: tidak sampai akhir 2026.

Pemerintah dan Pertamina telah menyatakan harga Pertalite serta Solar subsidi tetap dipertahankan.

Namun, kebijakan tersebut bukan berarti lonjakan harga minyak dunia tidak membawa biaya.

Beban tersebut dapat berpindah dari konsumen langsung kepada APBN melalui subsidi maupun kompensasi.

Inilah alasan harga minyak dunia perlu diperhatikan masyarakat Indonesia meskipun harga Pertalite di papan SPBU belum berubah.

Efek Lain Bisa Menjalar ke Ekonomi

Harga minyak yang bertahan tinggi juga dapat memberikan tekanan melalui jalur lain.

Biaya transportasi dan logistik berpotensi meningkat terutama bagi sektor usaha yang menggunakan BBM nonsubsidi.

Kenaikan biaya energi pada akhirnya dapat ikut mempengaruhi harga barang dan jasa jika berlangsung dalam waktu panjang.

Selain itu, kebutuhan pembayaran impor energi dalam dolar AS dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing. Kondisi tersebut menjadi semakin relevan apabila pada saat bersamaan dolar AS menguat terhadap rupiah.

Dengan demikian, dampak harga minyak US$108 bagi Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pertanyaan apakah harga Pertalite naik atau tidak.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja