Estimasi waktu baca: 6 menit

The Fed Umumkan Suku Bunga Dini Hari Besok, Rupiah hingga Emas Waspada

CYRUSTIMES, JAKARTA – Pasar keuangan global bersiap menghadapi salah satu agenda ekonomi paling penting pekan ini. Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, akan mengumumkan keputusan suku bunga terbarunya pada Rabu, 16 September 2026 waktu Amerika Serikat.

Bagi Indonesia, pengumuman tersebut akan berlangsung Kamis dini hari, 17 September 2026 sekitar pukul 01.00 WIB.

Setengah jam kemudian, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan memberikan konferensi pers yang berpotensi menentukan arah dolar AS, pasar obligasi, saham hingga harga emas.

Pelaku pasar kini bukan hanya menunggu apakah suku bunga naik atau tetap, tetapi juga mencari petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed untuk sisa 2026.

Pasar Kini Lebih Banyak Memperkirakan Suku Bunga Naik

The Fed saat ini mempertahankan target federal funds rate pada kisaran 3,50–3,75 persen.

Pada pertemuan 29 Juli 2026, mayoritas anggota FOMC memilih mempertahankan suku bunga. Namun tiga anggota ketika itu sudah memilih kenaikan sebesar 25 basis poin.

Inflasi yang masih tinggi, lonjakan harga energi serta kuatnya sejumlah indikator ekonomi kemudian mengubah ekspektasi pasar menjelang pertemuan September.

Jajak pendapat Reuters terbaru menunjukkan sekitar 85 persen ekonom yang disurvei memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin, sehingga target bunga berpotensi berubah menjadi 3,75–4,00 persen.

Pasar berjangka bahkan menunjukkan keyakinan lebih tinggi. Reuters mencatat probabilitas kenaikan bunga yang tercermin di pasar mencapai sekitar 95 persen menjelang keputusan tersebut.

Namun angka tersebut tetap merupakan ekspektasi pasar, bukan keputusan resmi The Fed.

Keputusan baru akan diketahui setelah FOMC mengeluarkan pernyataan dini hari nanti.

Mengapa The Fed Bisa Kembali Naikkan Bunga?

Tekanan inflasi menjadi alasan utama.

Inflasi konsumen Amerika Serikat pada Agustus meningkat 0,4 persen secara bulanan, lebih tinggi dibanding kenaikan 0,1 persen pada Juli.

Tekanan menjadi semakin rumit setelah harga minyak dunia kembali menembus US$100 per barel.

Brent bahkan ditutup pada US$108,75 per barel, sedangkan WTI mencapai US$105,83 per barel setelah gangguan pasokan minyak dari Arab Saudi dan meningkatnya risiko geopolitik.

Harga energi yang tinggi dapat kembali mendorong biaya transportasi, produksi dan harga barang.

Situasi inilah yang membuat investor menilai The Fed berpotensi kembali mengetatkan kebijakan untuk mencegah inflasi bertahan terlalu tinggi.

Rupiah Sudah Mendekati Rp17.700 per Dolar

Tekanan menjelang keputusan The Fed sudah terlihat pada rupiah.

Berdasarkan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia, rupiah pada 15 September 2026 berada di Rp17.687 per dolar AS.

Sehari sebelumnya rupiah masih berada di Rp17.635 per dolar.

Artinya, rupiah melemah sekitar Rp52 dalam satu hari perdagangan berdasarkan data JISDOR.

Dolar AS sendiri menguat terhadap sejumlah mata uang global menjelang keputusan The Fed.

Kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat serta ekspektasi bunga yang lebih tinggi membuat aset berbasis dolar kembali menarik bagi investor global.

Apa Dampaknya Jika The Fed Naikkan Bunga?

Secara teori, suku bunga Amerika yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset dolar seperti obligasi pemerintah AS.

Investor global kemudian berpotensi memindahkan sebagian dananya dari negara berkembang menuju aset dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat menciptakan tekanan terhadap rupiah apabila arus modal keluar meningkat.

Namun reaksi pasar tidak selalu sederhana.

Kenaikan 25 basis poin saat ini sudah sangat banyak diperhitungkan investor.

Karena itu, apabila The Fed benar-benar menaikkan bunga sesuai ekspektasi, perhatian kemungkinan justru beralih pada pernyataan Kevin Warsh dan proyeksi suku bunga The Fed berikutnya.

Jika pernyataannya mengarah pada kenaikan lanjutan, dolar berpotensi tetap kuat.

Sebaliknya, jika The Fed memberi indikasi bahwa kenaikan September merupakan langkah terbatas, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat berkurang.

Bank Indonesia Ikut Dihadapkan Pilihan Sulit

Pergerakan rupiah juga membuat keputusan The Fed penting bagi Bank Indonesia.

BI-Rate saat ini berada di 5,75 persen berdasarkan keputusan terakhir Agustus 2026.

Selisih tingkat bunga Indonesia dengan Amerika Serikat merupakan salah satu faktor yang diperhatikan investor, meskipun bukan satu-satunya penentu arus modal.

Jika The Fed menaikkan suku bunga menjadi 3,75–4,00 persen, selisih suku bunga nominal dengan Indonesia menjadi semakin sempit.

Dalam situasi rupiah yang sedang tertekan, Bank Indonesia dapat menghadapi tantangan menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Namun keputusan BI berikutnya tetap akan mempertimbangkan inflasi domestik, pertumbuhan, likuiditas, arus modal dan kondisi pasar global secara keseluruhan.

Emas Ikut Tertekan Jelang The Fed

Tidak hanya rupiah.

Harga emas dunia juga mulai merasakan tekanan menjelang pertemuan The Fed.

Pada perdagangan 15 September, emas spot berada sekitar US$4.293,29 per troy ounce, turun sekitar 0,1 persen.

Kontrak berjangka emas Amerika Serikat turun sekitar 0,4 persen ke US$4.332,80 per troy ounce.

Sebelumnya, emas bahkan sempat turun ke level terendah lebih dari satu bulan setelah kenaikan harga minyak dan inflasi meningkatkan peluang kenaikan suku bunga AS.

Hubungannya cukup langsung.

Emas tidak memberikan bunga atau kupon.

Ketika suku bunga dan yield obligasi meningkat, investor mendapatkan alternatif aset yang memberikan imbal hasil rutin.

Akibatnya, emas dapat kehilangan sebagian daya tariknya.

Tetapi Harga Emas Tidak Otomatis Turun

Kenaikan suku bunga The Fed tidak berarti harga emas pasti jatuh.

Emas juga dipengaruhi ketegangan geopolitik, inflasi, permintaan bank sentral, kekuatan dolar serta kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi global.

Saat ketidakpastian meningkat, emas tetap dapat dicari sebagai aset lindung nilai.

Karena itu, arah emas setelah keputusan FOMC sangat bergantung pada kombinasi antara keputusan bunga dan pesan yang disampaikan The Fed.

Jika The Fed menaikkan bunga sekaligus memberi sinyal kenaikan tambahan, emas berpotensi mendapatkan tekanan lebih besar.

Sebaliknya, jika kenaikan bunga sudah sepenuhnya tercermin dalam harga dan pernyataan Warsh lebih lunak dari perkiraan, emas dapat kembali menguat.

Yield Obligasi AS Sudah Tembus 5 Persen

Salah satu indikator yang membuat pasar semakin berhati-hati adalah yield Treasury AS tenor 10 tahun.

Reuters mencatat yield tersebut sempat mencapai sekitar 5,041 persen, level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan yield membuat biaya pinjaman meningkat dan dapat menekan valuasi saham, khususnya perusahaan yang banyak bergantung pada pembiayaan murah.

Wall Street sendiri ditutup melemah pada perdagangan Selasa menjelang keputusan The Fed.

S&P 500, Nasdaq dan Dow Jones sama-sama turun ketika investor menghadapi kombinasi harga minyak tinggi, yield obligasi yang melonjak dan ketidakpastian kebijakan suku bunga.

IHSG Juga Bisa Ikut Bergejolak

Dampaknya dapat merembet ke pasar saham Indonesia.

Jika bunga AS naik dan dolar semakin kuat, investor asing berpotensi lebih selektif menempatkan dana di pasar negara berkembang.

IHSG dapat menghadapi volatilitas terutama pada saham yang sensitif terhadap suku bunga, utang dolar serta arus dana asing.

Namun sektor tertentu dapat bergerak berbeda.

Saham berbasis komoditas atau energi misalnya dapat memperoleh sentimen positif apabila harga minyak dan komoditas tetap tinggi.

Karena itu, dampak terhadap IHSG kemungkinan tidak seragam pada seluruh sektor.

Tiga Skenario Pasar Setelah Pengumuman The Fed

Ada tiga skenario utama yang dapat diperhatikan investor Indonesia.

Pertama, The Fed naikkan bunga 25 basis poin dan tetap hawkish.

Ini merupakan skenario yang berpotensi paling menekan rupiah dan emas apabila The Fed turut memberi sinyal kenaikan berikutnya.

Dolar dapat tetap kuat, sementara yield obligasi AS bertahan tinggi.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja