Estimasi waktu baca: 4 menit

CYRUSTIMES, TEHERAN – Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua negara melancarkan serangan rudal serta pesawat nirawak ke sejumlah sasaran di kawasan Teluk. Eskalasi terbaru membuat aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz merosot tajam dan jalur energi strategis tersebut dilaporkan praktis lumpuh.

Iran mengklaim telah menyerang fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, Oman dan Yordania. Sejumlah rudal juga dilaporkan diarahkan ke negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan atau fasilitas militer AS.

Advertisement

Sebaliknya, militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru ke wilayah Iran. Sasaran serangan meliputi sistem pertahanan udara, radar pantai, lokasi peluncuran rudal, fasilitas pesawat nirawak hingga aset angkatan laut Iran.

Ledakan dilaporkan terdengar di sekitar Bandar Abbas dan Pulau Qeshm yang berada dekat Selat Hormuz. Kawasan tersebut dinilai strategis karena menjadi lokasi berbagai fasilitas pertahanan dan pangkalan militer Iran.

Serangan Meluas ke Negara Teluk

Korps Garda Revolusi Iran menyatakan serangan dilakukan terhadap fasilitas yang berkaitan dengan operasi militer Amerika Serikat.

Advertisement

Bahrain, Kuwait, Oman dan Yordania menjadi beberapa negara yang terdampak dalam gelombang serangan terbaru. Yordania dilaporkan mencegat rudal Iran yang melintasi wilayah udaranya.

Oman juga memprotes serangan pesawat nirawak yang mengenai wilayahnya. Negara tersebut sebelumnya menjadi salah satu mediator utama dalam perundingan antara Washington dan Teheran.

Amerika Serikat kemudian membalas dengan menyerang puluhan sasaran militer Iran. Washington menyebut operasi itu ditujukan untuk mengurangi kemampuan Iran menyerang kapal komersial dan mengganggu kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Iran Klaim Tutup Selat Hormuz

Iran menyatakan Selat Hormuz telah ditutup bagi kapal yang tidak memperoleh izin dari otoritas Teheran. Penutupan disebut akan tetap diberlakukan hingga keamanan kawasan dapat dipastikan.

Teheran juga mengusulkan pengaturan lalu lintas kapal bersama Oman, termasuk kemungkinan penerapan mekanisme perizinan bagi kapal yang hendak melintas.

Amerika Serikat menolak klaim tersebut. Washington menegaskan Iran tidak memiliki hak menguasai jalur pelayaran internasional dan meminta seluruh jalur di Selat Hormuz dibuka tanpa pungutan maupun pembatasan.

Advertisement

Meskipun militer AS mengklaim selat masih terbuka, data pergerakan kapal menunjukkan aktivitas kapal komersial menurun drastis. Kondisi tersebut membuat Selat Hormuz secara operasional dinilai hampir tertutup total.

Kapal Komersial Jadi Sasaran

Eskalasi konflik terjadi setelah sejumlah kapal komersial dilaporkan terkena serangan ketika melintasi Selat Hormuz.

Amerika Serikat menuding Iran bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Teheran belum memberikan penjelasan rinci mengenai seluruh insiden yang terjadi.

Serangan terhadap kapal dagang menimbulkan kekhawatiran perusahaan pelayaran dan pengelola kapal tanker. Sejumlah operator memilih menunda perjalanan atau mengalihkan rute untuk menghindari kawasan konflik.

Situasi itu menyebabkan lalu lintas kapal tanker minyak dan gas alam cair melalui Selat Hormuz turun tajam dibandingkan kondisi normal.

Perundingan Terancam Gagal

Pertempuran terbaru membuat kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran terancam runtuh.

Advertisement

Kesepakatan tersebut sebelumnya dirancang untuk menghentikan serangan selama 60 hari sekaligus membuka ruang perundingan mengenai program nuklir Iran dan keamanan Selat Hormuz.

Namun, Iran menyatakan jalur diplomasi tidak menghasilkan kemajuan. Pemerintah Teheran juga menilai Amerika Serikat melanggar kesepakatan setelah kembali melancarkan serangan militer.

Sementara itu, Washington menuduh Iran tidak mematuhi komitmen untuk menghentikan serangan terhadap kapal komersial.

Sejumlah negara, termasuk Qatar, Mesir, Pakistan dan Oman, masih berupaya mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan. Namun, serangan yang terus meluas memperkecil peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Harga Minyak Kembali Naik

Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global dalam kondisi normal melintasi perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.

Gangguan pelayaran membuat pasar khawatir terhadap pasokan minyak dari negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak dan Qatar.

Advertisement

Harga minyak mentah Brent dilaporkan naik lebih dari 2 persen setelah serangan kembali meningkat. Kenaikan juga terjadi pada minyak West Texas Intermediate seiring kekhawatiran konflik akan berlangsung lebih lama.

Apabila Selat Hormuz benar-benar tidak dapat dilalui, biaya pengiriman, asuransi kapal dan harga energi global diperkirakan terus meningkat. Kondisi tersebut juga berpotensi menambah tekanan inflasi di berbagai negara.

Konflik yang semakin meluas kini tidak hanya melibatkan Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga menempatkan negara-negara Teluk dalam risiko serangan langsung.

Belum ada tanda-tanda kedua pihak akan menghentikan operasi militernya. Amerika Serikat menyatakan akan terus menjaga kebebasan pelayaran, sementara Iran bersikeras memiliki kendali terhadap keamanan Selat Hormuz.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Advertisement