Estimasi waktu baca: 2 menit

Karhutla Mulai Tekan Ekonomi

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghasilkan biaya ekonomi yang semakin luas di Kalimantan. Gangguan penerbangan, aktivitas masyarakat yang terbatas hingga meningkatnya kebutuhan penanganan kesehatan memperlihatkan bahwa kerugian akibat karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar.

Sektor transportasi menjadi salah satu yang paling mudah terlihat dampaknya.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sampai meminta operator penerbangan dan pelayaran di Kalimantan menyesuaikan jadwal operasional akibat dampak karhutla.

Gangguan tersebut penting secara ekonomi karena transportasi udara menjadi salah satu jalur utama pergerakan orang dan kegiatan bisnis antardaerah di Kalimantan.

Penerbangan Mulai Terganggu

Di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, sedikitnya 10 penerbangan terdampak kabut asap akibat karhutla.

Gangguan serupa terjadi di Kalimantan Timur.

Bandara Melalan, Kutai Barat, mencatat sejumlah penerbangan pada periode 28-30 Agustus 2026 harus dibatalkan karena jarak pandang berada di bawah batas minimum keselamatan penerbangan.

Dampaknya tidak berhenti pada maskapai.

Ketika pesawat terlambat atau batal, penumpang kehilangan waktu perjalanan, agenda bisnis terganggu dan mobilitas antardaerah ikut terhambat.

AirNav Indonesia juga memperkuat pengawasan keselamatan penerbangan di ruang udara Kalimantan akibat dampak kabut asap.

Produktivitas Ikut Tertekan

Dampak ekonomi karhutla juga berjalan melalui aktivitas masyarakat sehari-hari.

Ketika kualitas udara mencapai kategori tidak sehat hingga berbahaya, masyarakat didorong mengurangi kegiatan di luar ruangan.

Konsekuensinya dapat dirasakan pekerja lapangan, pedagang, pengemudi, pelaku jasa dan kelompok masyarakat yang pendapatannya bergantung pada aktivitas harian.

Pada saat bersamaan, biaya penanganan ikut bertambah: pemerintah harus melakukan pemadaman darat, operasi udara, modifikasi cuaca hingga menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Kementerian Kehutanan hingga awal September masih memperkuat operasi pengendalian karhutla di Kalimantan, menunjukkan bahwa kebutuhan sumber daya penanganan belum berakhir.

Potensi Kerugian Bisa Sangat Besar

Sebuah estimasi yang dipublikasikan pada 4 September memperkirakan kerugian karhutla 2026 secara nasional berpotensi mencapai Rp123 triliun. Angka tersebut merupakan proyeksi, bukan nilai kerugian final yang telah diaudit, sehingga perlu dibaca sebagai gambaran potensi skala ekonomi apabila dampak kebakaran terus meluas.

Bagi Kalimantan, biaya sebenarnya juga tidak hanya berbentuk kerusakan fisik.

Ada kehilangan produktivitas, gangguan perjalanan, biaya kesehatan, biaya operasi penanganan bencana hingga potensi tekanan terhadap kegiatan perdagangan dan jasa.

Karena itu, semakin lama asap bertahan, semakin panjang pula rantai ekonomi yang berpotensi terdampak.

Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan berapa hektare hutan dan lahan yang terbakar. Ketika pesawat tidak bisa terbang, pekerja membatasi aktivitas dan masyarakat mulai membutuhkan pelayanan kesehatan tambahan, kebakaran telah menghasilkan biaya ekonomi yang dibayar jauh dari lokasi api.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

AA3F4864-5C8D-4C02-B0C2-F53C75889A03
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja