Estimasi waktu baca: 3 menit

Kalteng Kini Dihantui Krisis Air Bersih

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA Dampak musim kemarau di Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai datang dari dua arah. Di saat pemerintah berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap, sejumlah wilayah kini juga menghadapi persoalan lain yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, yakni sulitnya memperoleh air bersih.

Kondisi itu terlihat dari meningkatnya distribusi bantuan air bersih Pemerintah Provinsi Kalteng dalam beberapa hari terakhir. Hingga 2 September 2026, sedikitnya 233.250 liter air bersih telah disalurkan ke berbagai desa dan kelurahan terdampak kekeringan di sejumlah kabupaten/kota.

Distribusi dilakukan bertahap. Pada 1 September, sebanyak 74.450 liter disalurkan kepada masyarakat. Sehari kemudian jumlahnya melonjak menjadi 158.800 liter.

Situasi ini memperlihatkan bahwa kemarau yang ikut meningkatkan risiko karhutla kini mulai memberikan tekanan langsung terhadap ketersediaan air bagi masyarakat.

Palangka Raya hingga Barito Utara Mulai Butuh Air

Distribusi air bersih telah menjangkau sejumlah daerah.

Di Palangka Raya, bantuan antara lain disalurkan ke kawasan Rindang Banua sebanyak 250 liter untuk 10 kepala keluarga dan Petuk Katimpun sebanyak 4.000 liter untuk 164 kepala keluarga.

Sementara di Kabupaten Barito Utara, sebanyak 12.000 liter air bersih dikirim ke Desa Pendreh untuk membantu sekitar 850 kepala keluarga. Kabupaten Lamandau juga menerima sedikitnya 10.000 liter untuk wilayah Nanga Bulik.

Data tersebut menunjukkan persoalan air bersih tidak hanya terjadi pada satu titik, tetapi mulai ditemukan di sejumlah wilayah Kalteng.

Pemerintah pun terus melakukan distribusi menyesuaikan laporan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Gubernur: Penanganan Tak Hanya Fokus Karhutla

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menegaskan pemerintah daerah tidak hanya berkonsentrasi memadamkan karhutla selama periode kemarau.

Dampak lain yang muncul di masyarakat juga harus ditangani, termasuk memastikan ketersediaan air bersih bagi wilayah yang mulai mengalami kekeringan.

Situasi tersebut membuat penanganan musim kemarau di Kalteng semakin kompleks.

Di satu sisi, sumber daya pemerintah dikerahkan untuk pemadaman darat, pembasahan gambut hingga operasi udara. Di sisi lain, masyarakat yang mulai kesulitan mendapatkan air membutuhkan distribusi menggunakan armada tangki.

Pemprov Kalteng sendiri masih memperkuat pembasahan kawasan gambut dan dukungan operasi lapangan untuk mengendalikan karhutla.

Kekeringan Mulai Mengancam Pertanian

Dampak kemarau juga mulai bergerak ke sektor pertanian.

Di Kabupaten Pulang Pisau, sekitar 2.000 hektare tanaman padi dilaporkan masih berada di lahan dan menunggu masa panen. Kekurangan pasokan air membuat ancaman gagal panen menjadi persoalan yang ikut diwaspadai.

Kondisi tersebut membuat kemarau tahun ini bukan semata persoalan kebakaran.

Ketika sumber air mulai berkurang, efeknya dapat menjalar dari kebutuhan rumah tangga menuju sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Karena itu, distribusi ratusan ribu liter air bersih dalam waktu singkat menjadi salah satu indikator bahwa dampak kemarau mulai dirasakan langsung di permukiman.

Karhutla dan Kekeringan Berjalan Bersamaan

Kemarau menciptakan persoalan yang saling berkaitan. Kondisi lahan yang semakin kering meningkatkan kerawanan kebakaran, sementara minimnya hujan ikut mengurangi ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah.

Bagi petugas karhutla, ketersediaan air juga menjadi bagian penting dalam pemadaman dan pembasahan lahan gambut.

Pemprov Kalteng saat ini masih mengoptimalkan penanganan kebakaran dengan mengombinasikan operasi darat, pembasahan gambut dan dukungan operasi udara.

Sementara bagi masyarakat, persoalannya jauh lebih sederhana namun mendesak: air dibutuhkan setiap hari untuk minum, memasak, mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kondisi inilah yang membuat dampak kemarau di Kalteng kini semakin terasa. Warga tidak hanya harus menghadapi asap karhutla dan kualitas udara yang memburuk, tetapi di sejumlah wilayah juga mulai bergantung pada bantuan air bersih.

Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, kebutuhan distribusi air berpotensi terus bertambah apabila sumber air masyarakat belum kembali normal.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

AA3F4864-5C8D-4C02-B0C2-F53C75889A03
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja