Estimasi waktu baca: 3 menit

Pemerintah Optimalkan Modifikasi Cuaca

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA Pemerintah kembali mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah (Kalteng) di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang belum sepenuhnya terkendali.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyebut OMC di Kalteng dan Kalimantan Barat terus diperkuat sebagai bagian dari penanganan terpadu karhutla. Operasi diarahkan untuk meningkatkan pembasahan lahan, terutama kawasan gambut, membantu pemadaman darat sekaligus menekan risiko meluasnya kebakaran dan sebaran asap.

Langkah ini menjadi penting bagi Kalteng karena karakteristik kebakaran di lahan gambut membuat api tidak selalu padam ketika kobaran di permukaan sudah tidak terlihat.

Kalteng Catat Titik Api Terbanyak

Data penanganan karhutla yang disampaikan BNPB per 3 September menunjukkan Kalteng mencatat 72 titik api dengan luas lahan terbakar sekitar 739 hektare.

Sebanyak 10.700 personel Satgas Darat difokuskan pada penanganan hingga pendinginan lahan gambut untuk mencegah api kembali muncul ke permukaan.

Namun, operasi udara menghadapi tantangan tersendiri.

Kabut asap yang membuat jarak pandang rendah dilaporkan menghambat Satgas Udara melakukan patroli maupun water bombing di Kalteng.

Artinya, di tengah kebutuhan mempercepat pemadaman, asap yang dihasilkan kebakaran justru dapat membatasi pergerakan armada udara.

OMC Bergantung pada Pertumbuhan Awan

Operasi Modifikasi Cuaca juga tidak bisa dilakukan setiap saat.

BNPB sebelumnya menjelaskan OMC di Kalteng sempat belum menghasilkan hujan karena pertumbuhan awan di atmosfer sangat rendah. Kondisi atmosfer menjadi faktor penting karena operasi membutuhkan keberadaan awan yang memenuhi kriteria untuk disemai.

Kondisi tersebut membuat OMC berbeda dengan anggapan bahwa pemerintah dapat membuat hujan kapan saja.

Operasi dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan yang secara meteorologis memungkinkan untuk diproses sehingga peluang turunnya hujan dapat ditingkatkan.

Kementerian Kehutanan juga menegaskan pelaksanaan OMC terus dioptimalkan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kriteria meteorologis untuk mendukung pembentukan hujan.

Kalteng Sudah Beberapa Kali Jalankan OMC

OMC sebenarnya bukan langkah baru dalam penanganan karhutla Kalteng tahun ini.

Pada periode 27 Juli-4 Agustus dan 11-15 Agustus 2026, OMC telah dilaksanakan sebanyak 13 sorti penerbangan di Kalteng.

Dari operasi tersebut, estimasi volume curah hujan pada wilayah penyemaian mencapai sekitar 4,8 juta meter kubik.

Operasi kembali menjadi salah satu instrumen yang diandalkan ketika kondisi lahan semakin kering dan kebakaran gambut sulit ditangani hanya melalui pemadaman permukaan.

53 Armada Udara Dikerahkan Secara Nasional

Secara lebih luas, penanganan karhutla melalui operasi udara kini dilakukan dalam skala besar.

Kementerian Kehutanan mencatat 53 unit armada udara dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla. Sebanyak 19 unit dialokasikan untuk patroli udara dan OMC, sementara 34 lainnya difokuskan pada operasi water bombing di titik-titik yang sulit dijangkau tim darat.

Pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan berbasis satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20 juga mendeteksi 688 hotspot berkepercayaan tinggi secara nasional hingga 3 September pukul 21.19 WIB.

Kalteng termasuk dalam tujuh wilayah yang menjadi fokus pemantauan intensif bersama Kalbar, Kalsel, Kaltim, Sumsel, Riau dan Jambi.

Hotspot sendiri merupakan indikasi titik panas berdasarkan penginderaan satelit dan tidak otomatis menunjukkan adanya kebakaran aktif di setiap titik.

OMC Bukan Satu-satunya Andalan

Optimalisasi OMC tidak berarti penanganan karhutla hanya bergantung pada turunnya hujan.

Pemerintah tetap mengombinasikannya dengan pemadaman darat, water bombing, patroli, pengecekan hotspot hingga pendinginan lahan gambut.

Pendekatan tersebut menjadi penting bagi Kalteng karena api pada lapisan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan berpotensi kembali muncul ketika kondisi tetap kering.

Dengan karhutla dan kabut asap yang masih menjadi persoalan pada awal September, keberhasilan OMC juga sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan tersedianya awan potensial.

Pemerintah kini berpacu dengan kondisi cuaca untuk membasahi kembali kawasan rawan sekaligus menekan kemunculan titik api baru dan dampak asap terhadap masyarakat.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

AA3F4864-5C8D-4C02-B0C2-F53C75889A03
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja