Pusat Data AI Jatiluhur Disetop
CYRUSTIMES, PURWAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya membutuhkan chip, server, dan listrik dalam jumlah besar. Infrastruktur yang menopang teknologi tersebut juga memerlukan air, terutama untuk sistem pendinginan dan pembangkitan listrik.
Persoalan itu menjadi perhatian dalam pembangunan pusat data AI milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan sementara proyek tersebut pada akhir September 2026 karena dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum diterbitkan.
Proyek AI Campus 2 atau CGK4 itu dirancang memiliki kapasitas hingga 640 megawatt (MW). Lokasinya berjarak sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur, salah satu sumber air penting bagi irigasi pertanian di Jawa Barat.
Penghentian sementara tersebut bukan berarti pemerintah menolak investasi pusat data. Pemerintah meminta persyaratan perizinan diselesaikan sebelum pembangunan dilanjutkan, sekaligus menyoroti dampak proyek terhadap ketersediaan air dan masyarakat sekitar.
Ketika Teknologi Digital Bertemu Kebutuhan Air
Pusat data merupakan fasilitas yang menampung server dan perangkat jaringan untuk memproses, menyimpan, serta mengirimkan informasi digital. Layanan komputasi awan, mesin pencari, dan aplikasi AI bergantung pada fasilitas semacam ini.
Perangkat komputasi menghasilkan panas saat bekerja. Karena itu, pusat data membutuhkan sistem pengelolaan suhu agar server dapat beroperasi dengan stabil.
Salah satu metode pendinginan menggunakan air. Dalam sistem tertentu, sebagian air menguap untuk membuang panas, sehingga air tersebut tidak langsung kembali tersedia bagi pengguna lain di daerah yang sama.
Namun, konsumsi air setiap fasilitas tidak seragam. Jumlahnya dipengaruhi kapasitas komputasi, desain pendinginan, suhu lingkungan, dan teknologi yang digunakan.
Pacific Institute dalam kajian yang diterbitkan pada September 2026 mencatat pengambilan air pusat data dapat berkisar dari rata-rata 270 galon hingga 3,9 juta galon per hari. Rentang tersebut menunjukkan mengapa angka konsumsi air satu fasilitas tidak dapat langsung diterapkan pada semua pusat data.
Kebutuhan Air Jatiluhur Mencapai 33 Ribu Meter Kubik
Besarnya kebutuhan air menjadi salah satu isu utama dalam proyek BDx di Jatiluhur.
Menurut laporan Bisnis.com dan ANTARA mengenai penghentian sementara proyek tersebut, kebutuhan air pada tahap pengembangan berikutnya diperkirakan mencapai 384 liter per detik, setara sekitar 33.000 meter kubik per hari jika kebutuhan tersebut tercapai.
Angka itu merupakan perkiraan kebutuhan proyek pada tahap pengembangan berikutnya, bukan angka konsumsi aktual fasilitas yang telah beroperasi penuh. Proyek tersebut masih dalam tahap pembangunan ketika penghentian sementara diberlakukan.
Kebutuhan tersebut perlu dinilai bersama ketersediaan sumber air, pola pengambilan, kebutuhan irigasi, serta penggunaan air oleh masyarakat dan sektor usaha lain.
Waduk Jatiluhur memiliki fungsi penting bagi pertanian. Karena itu, kajian dampak lingkungan perlu menjelaskan apakah pengambilan air untuk fasilitas industri dapat berjalan tanpa mengganggu alokasi bagi pengguna yang sudah bergantung pada sumber tersebut.
Pertanyaan utamanya bukan sekadar berapa banyak air yang dibutuhkan pusat data, tetapi juga dari mana air itu diambil, kapan kebutuhannya mencapai puncak, dan bagaimana pemenuhan kebutuhan tersebut dikelola ketika pasokan terbatas.
Bukan Hanya Pendinginan Server
Jejak air pusat data tidak berhenti pada air yang digunakan langsung di dalam fasilitas.
Listrik yang memasok server juga dapat memiliki jejak air, bergantung pada teknologi pembangkit yang digunakan. Sebagian pembangkit memerlukan air untuk proses pendinginan dan operasionalnya.
Kajian organisasi lingkungan Ceres pada Agustus 2026 menyoroti bahwa penggunaan air untuk menghasilkan listrik dapat menjadi bagian besar dari jejak air pusat data. Besarnya dampak tidak hanya bergantung pada efisiensi fasilitas, tetapi juga pada komposisi sumber listrik yang memasoknya.
Artinya, evaluasi keberlanjutan pusat data perlu mempertimbangkan dua hal sekaligus: air yang digunakan secara langsung untuk operasional dan air yang berkaitan dengan produksi listrik.
Penggunaan sistem pendinginan yang lebih efisien, pemanfaatan air daur ulang, dan pemilihan sumber energi dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya. Namun, efektivitas setiap pilihan tetap bergantung pada kondisi lokasi dan rancangan fasilitas.
Izin Lingkungan Menjadi Bagian Penting Investasi
Penghentian sementara proyek Jatiluhur memperlihatkan pentingnya menyelesaikan kajian lingkungan sebelum pembangunan berjalan lebih jauh.
AMDAL diperlukan untuk menilai potensi dampak suatu kegiatan terhadap lingkungan, sedangkan PBG menjadi bagian dari persyaratan administratif dan teknis bangunan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan proyek harus memenuhi persyaratan tersebut sebelum pekerjaan dilanjutkan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga meminta agar kajian mengenai penggunaan air dan potensi kebisingan dibuka kepada publik. Pemerintah ingin memastikan pembangunan tidak mengganggu kebutuhan air bagi petani maupun masyarakat sekitar.
Lembaga Institute for Essential Services Reform (IESR) turut mendukung penghentian sementara tersebut. IESR menilai keberlanjutan sumber air, keandalan listrik, dan hak masyarakat atas informasi perlu diperhitungkan dalam pengembangan pusat data berskala besar.
Di sisi lain, kepastian perizinan juga penting bagi investor. Pemerintah daerah menyatakan tetap mendukung investasi, dengan syarat seluruh ketentuan dipenuhi.
Menjaga Keseimbangan Ekonomi Digital dan Lingkungan
Pertumbuhan AI meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur digital. Pusat data dapat mendukung layanan komputasi, pengembangan bisnis, dan ekonomi berbasis teknologi. Namun, manfaat tersebut perlu berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab.
Kasus Jatiluhur memperlihatkan bahwa kapasitas listrik dan teknologi bukan satu-satunya faktor dalam menentukan lokasi pusat data. Ketersediaan air, dampak lingkungan, perizinan, dan kebutuhan masyarakat setempat juga menentukan kelayakan pengembangan fasilitas.
Bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan investasi dapat berkembang tanpa mengabaikan daya dukung lingkungan. Bagi perusahaan, keterbukaan mengenai kebutuhan air, sumber pasokan, dan langkah mitigasi dapat membantu masyarakat memahami dampak proyek.
Sementara itu, masyarakat membutuhkan informasi yang dapat diperiksa mengenai jumlah air yang akan digunakan, pengaruhnya terhadap irigasi, dan mekanisme pengawasan ketika fasilitas mulai beroperasi.
Pada akhirnya, keberlanjutan AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih model yang digunakan. Infrastruktur fisik yang menopangnya juga perlu dibangun dengan memperhitungkan sumber daya alam dan kebutuhan warga di sekitarnya.
Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes
Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).
⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Tinggalkan Balasan