Estimasi waktu baca: 4 menit baca

Reshuffle Kabinet Merah Putih Masih Jadi Sorotan

CYRUSTIMES, JAKARTA – Isu perombakan Kabinet Merah Putih kembali menjadi perhatian setelah Istana membantah anggapan bahwa reshuffle 1 Oktober 2026 dilakukan untuk menyingkirkan orang-orang yang dekat dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Bambang Eko Suhariyanto menegaskan pergantian sejumlah pejabat merupakan bagian dari penataan pemerintahan dan tidak berkaitan dengan upaya menjauhkan Jokowi dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan tersebut disampaikan Bambang di kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2026). Ia menyebut pemerintahan Prabowo-Gibran tetap solid.

Namun, bantahan tersebut belum sepenuhnya mengakhiri perhatian terhadap kemungkinan penataan kabinet berikutnya. Reshuffle pada 1 Oktober menjadi perubahan besar menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang jatuh pada 20 Oktober 2026.

Istana Bantah Ada Upaya Singkirkan Loyalis Jokowi

Bambang menepis anggapan bahwa reshuffle terbaru merupakan upaya untuk membersihkan kabinet dari figur yang memiliki kedekatan dengan Jokowi.

Menurutnya, pergantian pejabat merupakan hal biasa dalam pemerintahan.

Penegasan tersebut muncul setelah sejumlah perubahan posisi strategis dalam reshuffle 1 Oktober dibaca sebagai perubahan konfigurasi politik pemerintahan Prabowo.

Dalam perombakan tersebut, Pratikno bergeser dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Posisi Menko PMK kemudian ditempati Sugiono.

Perubahan juga terjadi pada posisi Menteri Luar Negeri. Sugiono digantikan oleh Arrmanatha Christiawan Nasir.

Di sektor industri, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji masuk sebagai Menteri Perindustrian.

Sementara itu, Bahlil Lahadalia mendapat posisi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi sekaligus tetap menjalankan tugas sebagai Menteri ESDM.

Reshuffle 1 Oktober Bukan Perubahan Kecil

Perombakan tersebut menjadi reshuffle ketujuh sejak Prabowo memimpin pemerintahan.

Sebanyak 18 pejabat dilantik pada 1 Oktober untuk mengisi sejumlah posisi strategis. Momentum tersebut hanya sekitar tiga pekan sebelum pemerintahan Prabowo-Gibran genap berusia dua tahun.

Perubahan itu juga tidak hanya menyentuh kementerian.

Penataan berlangsung pada sejumlah posisi pemerintahan dan lingkaran Istana, termasuk pergantian Kapolri dari Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada Komjen Suyudi Ario Seto.

Listyo kemudian dipercaya menjadi Kepala Staf Kepresidenan.

Rangkaian pergantian tersebut membuat reshuffle 1 Oktober dipandang sebagai salah satu perubahan paling signifikan dalam komposisi pemerintahan Prabowo sejauh ini.

Mengapa Isu Reshuffle Lanjutan Belum Reda?

Perhatian terhadap kemungkinan reshuffle lanjutan tidak terlepas dari pernyataan Prabowo sebelumnya mengenai evaluasi kabinet.

Presiden pernah menyebut masa dua tahun sebagai waktu yang cukup bagi anggota kabinet untuk menunjukkan kemampuan dan kinerjanya.

Prabowo juga membuka kemungkinan melakukan reshuffle dengan prinsip the right man in the right place, termasuk melalui promosi maupun rotasi pejabat.

Pernyataan tersebut menjadi dasar munculnya spekulasi bahwa penataan kabinet belum sepenuhnya selesai meskipun reshuffle besar telah dilakukan pada 1 Oktober.

Dalam konteks itu, tanggal 20 Oktober kembali menjadi momentum yang diperhatikan karena bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Penataan Bisa Berlanjut ke Kursi Wakil Menteri

Ruang perubahan tidak hanya berada pada level menteri.

Sejumlah posisi wakil menteri juga mengalami perubahan setelah pejabatnya mendapat promosi atau terjadi kekosongan jabatan.

Pada reshuffle 1 Oktober, pemerintah bahkan memperkuat sejumlah posisi wakil menteri, termasuk di Kementerian Keuangan.

Dua wakil menteri keuangan dilantik di tengah perubahan posisi Menteri Keuangan yang sebelumnya terjadi pada September 2026.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa penataan struktur pemerintahan masih berlangsung dan tidak seluruhnya berhenti pada pergantian menteri.

Perubahan Kabinet Kini Masuk Fase Konsolidasi

Reshuffle terbaru juga dibaca sejumlah pengamat sebagai bagian dari konsolidasi kekuasaan Prabowo.

Perubahan posisi strategis dinilai menunjukkan upaya Presiden memperkuat kendali atas pemerintahan setelah melewati hampir dua tahun masa transisi.

Sejumlah analis melihat pergantian pejabat pada posisi strategis sebagai bagian dari upaya Prabowo membentuk konfigurasi pemerintahan yang lebih sesuai dengan arah kebijakan dan prioritasnya.

Di sisi lain, Istana menegaskan bahwa perubahan tersebut bukan bagian dari upaya menjauhkan Jokowi dari pemerintahan.

Dua narasi tersebut kini menjadi bagian dari dinamika politik menjelang memasuki tahun ketiga pemerintahan Prabowo-Gibran.

Sinyal Berikutnya Ada di Istana

Dengan reshuffle besar yang baru berlangsung, isu mengenai perombakan berikutnya kini bergeser dari pertanyaan siapa yang akan diganti menjadi apakah penataan kabinet benar-benar sudah selesai.

Pernyataan Presiden mengenai evaluasi dua tahun pemerintahan masih menjadi salah satu dasar yang membuat isu tersebut tetap hidup.

Namun, belum ada pengumuman resmi mengenai jadwal reshuffle lanjutan dalam waktu dekat.

Perubahan berikutnya, apabila terjadi, berpotensi berbentuk rotasi, promosi pejabat yang sudah berada di pemerintahan, pengisian posisi yang kosong, maupun pergantian menteri yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan pemerintahan.

Karena itu, perkembangan agenda Presiden dan keputusan resmi Istana dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu apakah reshuffle 1 Oktober merupakan penataan besar terakhir menjelang tahun ketiga pemerintahan atau masih menjadi bagian dari rangkaian perubahan Kabinet Merah Putih.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja