Dosen FEB UPR Soroti Keuangan Agrinas
CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Ekonom sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya atau FEB UPR, Suherman, menyoroti besarnya perbedaan antara surplus operasional dan laba bersih PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) pada Tahun Buku 2025.
Agrinas Palma sebelumnya mempublikasikan surplus operasional pengelolaan aset perkebunan sebesar Rp2,86 triliun. Namun, laba bersih perusahaan dalam laporan keuangan 2025 tercatat sekitar Rp27,9 miliar.
Menurut Suherman, perbedaan angka yang sangat lebar tersebut wajar mengundang pertanyaan dan menjadi bahan evaluasi publik.
“Dari perspektif ekonomi, angka-angka yang timpang ini pasti mengundang pertanyaan. Jika terdapat surplus operasional yang sangat besar, tetapi laba bersih yang dihasilkan relatif kecil, perlu ada penjelasan yang komprehensif,” kata Suherman.
Penjelasan tersebut, menurut dia, harus mencakup struktur biaya, efisiensi operasional, beban keuangan, penyusutan aset, serta berbagai komponen nonoperasional yang dapat memengaruhi laba bersih perusahaan.
Tidak Bisa Langsung Disebut Skandal
Meski menyoroti perbedaan angka tersebut, Suherman mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menyimpulkan adanya penyimpangan atau skandal.
Menurutnya, perbandingan antara surplus operasional Rp2,86 triliun, laba bersih sekitar Rp27,9 miliar, dan luas aset perkebunan sekitar 4,11 juta hektare belum cukup menjadi dasar untuk menarik kesimpulan.
“Kita tidak bisa langsung menyimpulkan ada skandal hanya dari perbandingan laba bersih, surplus operasional, dan luas lahan. Laporan keuangan itu tetap harus dibaca secara utuh,” ujarnya.
Suherman menjelaskan laba bersih dapat dipengaruhi banyak faktor di luar kinerja operasional utama.
Faktor tersebut antara lain beban bunga, penyusutan aset, pajak, biaya restrukturisasi, pencadangan, kerugian selisih kurs, serta biaya nonoperasional lainnya.
“Karena itu, surplus operasional yang besar belum tentu berujung pada laba bersih yang besar,” jelasnya.
Laba Agrinas Naik pada 2025
Laporan Tahunan Agrinas Palma mencatat pendapatan usaha perusahaan pada 2025 sebesar Rp173,35 miliar, turun dari Rp240,53 miliar pada 2024.
Beban pokok pendapatan tercatat Rp122,33 miliar, sedangkan beban usaha mencapai Rp26,17 miliar dan beban pajak final sebesar Rp6,46 miliar.
Setelah memperhitungkan sejumlah komponen pendapatan dan beban, Agrinas membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp27,88 miliar. Nilai tersebut meningkat dibandingkan laba tahun berjalan 2024 sebesar Rp12,77 miliar.
Laporan yang sama juga mencatat laba usaha setelah pajak final sebesar Rp25,74 miliar, naik dari Rp13,14 miliar pada tahun sebelumnya.
Menurut Suherman, angka dalam laporan keuangan tersebut tetap perlu dipisahkan secara jelas dari istilah surplus operasional pengelolaan aset perkebunan yang diumumkan perusahaan.
Perusahaan dinilai perlu menjelaskan definisi surplus operasional, cakupan penerimaan, biaya yang telah dikurangkan, status dana, serta mekanisme pencatatannya dalam laporan keuangan.
Minta Komponen Beban Dibuka
Suherman menilai selisih yang sangat besar antara surplus operasional dan laba bersih tidak boleh dibiarkan tanpa penjelasan terperinci.
Agrinas Palma harus menjawab komponen beban apa saja yang menyebabkan laba bersih jauh lebih kecil dibandingkan surplus operasional.
“Perlu dijelaskan apakah terdapat biaya yang bersifat satu kali atau one-off, bagaimana struktur utang perusahaan, dan bagaimana efisiensi pengelolaan aset serta lahannya,” katanya.
Penjelasan tersebut dinilai penting agar publik dapat membedakan antara hasil pengelolaan aset negara, pendapatan usaha perusahaan, arus kas yang diterima, dan laba yang menjadi hak perseroan.
Tanpa pemisahan yang jelas, angka-angka yang diumumkan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan spekulasi di tengah masyarakat.
Transparansi Jadi Kunci
Dari sudut pandang tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance, Suherman menilai transparansi dan akuntabilitas menjadi unsur utama dalam menjaga kepercayaan publik.
Apabila laporan keuangan telah diaudit dan seluruh pos material dijelaskan secara terbuka, publik dapat menilai apakah kecilnya laba bersih merupakan konsekuensi bisnis yang wajar atau menunjukkan persoalan yang perlu dievaluasi lebih lanjut.
“Jika seluruh penjelasan atas pos-pos material disampaikan secara terbuka, publik bisa menilai apakah kondisi itu merupakan konsekuensi bisnis yang wajar atau terdapat persoalan yang memerlukan evaluasi,” tuturnya.
Suherman menegaskan sorotan yang disampaikan bukan merupakan tudingan adanya pelanggaran.
Ia meminta Agrinas Palma memberikan penjelasan komprehensif mengenai hubungan antara surplus operasional, pendapatan, beban, arus kas, dan laba bersih perusahaan.
“Saya lebih meminta penjelasan yang komprehensif mengenai penyebab rendahnya laba bersih dibandingkan surplus operasional Agrinas. Transparansi dan akuntabilitas merupakan fondasi untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan perusahaan,” tegasnya.
Menurut dia, seluruh perbedaan angka yang kini menjadi perhatian publik harus dijelaskan secara terbuka, terukur, dan dapat diverifikasi.
Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.


Tinggalkan Balasan