ISPU Kalteng 18 Oktober 2026 Berbahaya
CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – ISPU Kalimantan Tengah (Kalteng) 18 Oktober 2026 menunjukkan kualitas udara berada pada kategori berbahaya di lima stasiun pemantauan Kalimantan Tengah. Di tengah tingginya pencemaran udara, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyiapkan uji coba teknologi dry ice atau es kering untuk membantu mengurangi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data resmi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Minggu (18/10/2026) pukul 06.38 WIB, stasiun Jekan Raya di Kota Palangka Raya mencatat nilai tertinggi sebesar 4.099 dengan parameter PM10.
Empat stasiun lainnya, yakni Gunung Mas, Barito Selatan, Murung Raya, dan Kotawaringin Timur, juga mencatat nilai di atas 300 atau masuk kategori berbahaya.
Data tersebut menambah perhatian terhadap dampak pencemaran udara di Kalimantan Tengah setelah kabut asap mengganggu aktivitas penerbangan dan mobilitas masyarakat dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, pemerintah pusat menyiapkan uji coba dry ice dengan prioritas wilayah Palangka Raya untuk membantu memperbaiki jarak pandang di sekitar Bandara Tjilik Riwut.
Menteri Kehutanan menyampaikan rencana itu saat meninjau penanganan karhutla di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Sabtu (17/10/2026) malam.
ISPU Kalteng 18 Oktober 2026, Lima Stasiun Berbahaya
Data KLH/BPLH memperlihatkan bahwa lima stasiun pemantauan di Kalimantan Tengah masuk dalam daftar sepuluh lokasi dengan nilai ISPU tertinggi nasional yang ditampilkan pada Minggu pagi.
Berikut rincian nilai berdasarkan tangkapan layar dashboard ISPU resmi KLH/BPLH pukul 06.38 WIB.
| Lokasi Stasiun Pemantauan | Nilai ISPU | Parameter | Kategori |
|---|---|---|---|
| Palangka Raya – Jekan Raya | 4.099 | PM10 | Berbahaya |
| Kabupaten Gunung Mas | 537 | PM10 | Berbahaya |
| Barito Selatan – Sanggu | 530 | PM10 | Berbahaya |
| Kabupaten Murung Raya | 392 | PM2.5 | Berbahaya |
| Kabupaten Kotawaringin Timur | 333 | PM2.5 | Berbahaya |
Sumber: Dashboard resmi ISPU KLH/BPLH, Minggu, 18 Oktober 2026, pukul 06.38 WIB.
Seluruh nilai tersebut berada di atas ambang ISPU 300, sehingga masuk kategori berbahaya menurut klasifikasi kualitas udara nasional.
Namun, hasil pengukuran satu stasiun tidak otomatis menggambarkan kondisi seluruh kabupaten atau kota. Kualitas udara dapat berbeda sesuai lokasi, kondisi atmosfer, arah angin, serta sumber pencemaran setempat.
Jekan Raya Catat ISPU Tertinggi Sebesar 4.099
Stasiun Jekan Raya di Palangka Raya mencatat nilai paling tinggi dalam daftar yang ditampilkan KLH/BPLH, yakni 4.099 dengan parameter PM10.
Nilai tersebut jauh melampaui batas awal kategori berbahaya yang dimulai pada indeks 301.
PM10 merupakan partikel udara dengan diameter aerodinamis hingga 10 mikrometer. Partikel tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pembakaran biomassa, debu, dan aktivitas lainnya.
Sementara itu, dua stasiun di Murung Raya dan Kotawaringin Timur mencatat parameter PM2.5, yaitu partikulat yang lebih halus dan dapat masuk lebih jauh ke sistem pernapasan.
Nilai ISPU merupakan indeks pencemaran udara, bukan angka konsentrasi partikulat dalam satuan mikrogram per meter kubik.
Angka 4.099 merupakan nilai yang ditampilkan sistem pemantauan resmi KLH/BPLH pada waktu pengamatan. Data tersebut perlu dibaca sesuai lokasi serta periode pengukuran dan tidak dapat langsung digunakan sebagai rata-rata paparan masyarakat seluruh Palangka Raya.
Gunung Mas dan Barito Selatan Tembus ISPU 500
Selain Palangka Raya, dua stasiun pemantauan di wilayah kabupaten juga menunjukkan tingkat pencemaran sangat tinggi.
Kabupaten Gunung Mas mencatat ISPU 537, sedangkan stasiun Sanggu di Kabupaten Barito Selatan mencapai 530. Keduanya mencatat PM10 sebagai parameter dominan.
Nilai tersebut memperlihatkan bahwa pencemaran udara kategori berbahaya tidak hanya terpantau di ibu kota provinsi.
Di wilayah lain, Murung Raya mencatat ISPU 392, sedangkan Kotawaringin Timur mencapai 333.
Sebaran hasil pengukuran tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan kondisi pencemaran udara berbahaya pada sejumlah lokasi yang secara geografis berjauhan di Kalimantan Tengah.
Meski demikian, data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan seluruh 14 kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah mengalami tingkat pencemaran yang sama.
Menhut Siapkan Dry Ice Atasi Kabut Asap Kalteng
Di tengah tingginya nilai ISPU, pemerintah pusat menyiapkan langkah tambahan untuk menghadapi kabut asap akibat karhutla.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan rencana uji coba teknologi dry ice setelah meninjau penanganan karhutla di Sampit pada Sabtu malam.
Menurut Raja Juli, pemerintah telah menemukan pemasok dry ice di Kalimantan. Material tersebut dijadwalkan tiba pada Minggu siang untuk mendukung pelaksanaan uji coba.
Operasi tahap awal akan diprioritaskan di Palangka Raya dengan sasaran membantu memperbaiki jarak pandang di sekitar Bandara Tjilik Riwut.
Rencana itu muncul setelah kabut asap mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah bandara Kalimantan Tengah.
Teknologi dry ice menjadi salah satu pendekatan yang sedang diuji pemerintah untuk membantu mengurangi dampak kabut asap. Namun, keberhasilannya masih harus melalui evaluasi.
Uji Coba Dry Ice Sebelumnya Dilakukan di Sumatera Selatan
Raja Juli menjelaskan bahwa penggunaan dry ice sebelumnya telah diuji di Sumatera Selatan.
Berdasarkan laporan awal yang diterima Menteri Kehutanan, jarak pandang di wilayah uji coba meningkat dari sekitar 300 meter menjadi 2.800 meter.
Sementara itu, indikator PM2.5 dilaporkan mengalami penurunan dari angka 660 menjadi 200.
Meski demikian, pemerintah belum memastikan seluruh perubahan tersebut disebabkan langsung oleh intervensi dry ice.
Kondisi atmosfer seperti arah angin, kelembapan, pergerakan udara, dan faktor meteorologis lain juga dapat memengaruhi perubahan jarak pandang serta konsentrasi polutan.
BMKG masih perlu mengevaluasi hasil tersebut untuk mengetahui efektivitas metode yang digunakan.
Dengan demikian, penerapan dry ice di Kalimantan Tengah masih merupakan uji coba, bukan teknologi yang telah dipastikan berhasil mengatasi kabut asap secara menyeluruh.
Kabut Asap Ganggu Tiga Bandara di Kalteng
Gangguan transportasi udara menjadi salah satu dampak nyata kabut asap akibat karhutla di Kalimantan Tengah.
Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya serta Bandara Haji Asan di Sampit sebelumnya mengalami gangguan aktivitas penerbangan akibat menurunnya jarak pandang.
Situasi serupa juga terjadi di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara Kelas II Iskandar Pangkalan Bun, Asri Alie, sebelumnya menyampaikan bahwa jarak pandang di kawasan bandara selama 11–17 Oktober 2026 dilaporkan mencapai maksimal sekitar 500 meter.
Sebanyak 84 pergerakan penerbangan diperkirakan berpotensi terdampak selama tujuh hari tersebut. Jumlah itu merupakan estimasi pergerakan, bukan angka pasti seluruh penerbangan yang dibatalkan atau ditunda.
Sementara itu, sebagian calon penumpang dari Kalimantan Tengah memilih perjalanan darat menuju Kalimantan Selatan untuk melanjutkan penerbangan melalui Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru.
Pada Sabtu (17/10/2026), bandara tersebut menerima tambahan sekitar 700 penumpang per hari dari Palangka Raya, Sampit, dan wilayah sekitarnya.
Gangguan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kabut asap tidak hanya berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan, tetapi juga memengaruhi mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi.
Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla Kalteng
Selain menyiapkan dry ice, pemerintah terus mengerahkan berbagai upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara menjadi bagian penting dalam menekan sumber asap.
Pemerintah juga melaksanakan modifikasi cuaca untuk mendukung pembentukan hujan apabila kondisi atmosfer memungkinkan.
Namun, tantangan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah tidak ringan. Lahan gambut dapat menyimpan bara di bawah permukaan, sehingga asap berpotensi kembali muncul meski api di permukaan telah berkurang.
Kondisi tersebut menuntut pembasahan menyeluruh, pengawasan titik panas, dan pengendalian kebakaran secara berkelanjutan.
Penggunaan dry ice diarahkan sebagai upaya tambahan untuk mengatasi dampak kabut asap, bukan menggantikan pemadaman sumber api.
ISPU Berbahaya, Masyarakat Perlu Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
Hasil pemantauan kualitas udara pada Minggu pagi perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar stasiun dengan kategori ISPU berbahaya.
Paparan partikulat PM10 maupun PM2.5 dapat memengaruhi kesehatan pernapasan dan berisiko memperburuk kondisi penderita penyakit paru serta jantung.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan merupakan kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih.
Ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak.
Penggunaan masker respirator seperti N95 yang terpasang dengan benar dapat membantu mengurangi paparan partikel ketika harus beraktivitas di lingkungan berasap.
Masyarakat juga disarankan memantau perkembangan ISPU melalui informasi resmi KLH/BPLH dan mengikuti imbauan pemerintah daerah serta dinas kesehatan.
Pemulihan Kualitas Udara Kalteng Jadi Tantangan
Data ISPU Kalteng 18 Oktober 2026 menunjukkan lima stasiun pemantauan mencatat kualitas udara kategori berbahaya.
Di saat bersamaan, pemerintah pusat menyiapkan uji coba dry ice sebagai langkah tambahan untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap jarak pandang, khususnya bagi aktivitas penerbangan.
Meski demikian, hasil uji coba tersebut belum dapat dipastikan hingga Minggu pagi. Belum ada data yang menunjukkan penggunaan dry ice telah menurunkan nilai ISPU di Kalimantan Tengah.
Karena itu, pemulihan kualitas udara membutuhkan penanganan menyeluruh, mulai dari pemadaman karhutla, pengendalian sumber pencemaran, pemantauan kualitas udara, hingga perlindungan kesehatan masyarakat.
Tingginya ISPU di lima stasiun pemantauan menjadi peringatan bahwa penanganan kabut asap Kalimantan Tengah tidak cukup hanya memulihkan jarak pandang, tetapi juga harus memastikan kualitas udara kembali aman bagi masyarakat.
Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes
Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).
⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan

Tinggalkan Balasan