Estimasi waktu baca: 4 menit

Mata Uang Asia Makin Tertekan

CYRUSTIMES, JAKARTA – Tekanan terhadap mata uang Asia kembali menguat setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Dolar AS menguat, yield Treasury naik, sementara harga minyak masih berada di level tinggi.

Kombinasi tersebut membuat investor semakin berhati-hati terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Survei Reuters terbaru menunjukkan posisi bearish terhadap sebagian besar mata uang Asia meningkat akibat penguatan dolar dan mahalnya energi.

Rupiah sendiri telah melemah sekitar 6 persen sepanjang 2026 menurut survei tersebut, meski sentimen terhadap Indonesia disebut sedikit membaik setelah kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas kebijakan mereda.

Dolar Menguat Setelah The Fed Naikkan Bunga

The Fed pada 16 September 2026 menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen.

Kebijakan tersebut kemudian diikuti penguatan dolar serta kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor pendek. Pasar juga mulai memperkirakan setidaknya satu kenaikan bunga tambahan sebelum akhir tahun.

Bagi mata uang Asia, situasi ini menciptakan tekanan ganda.

Aset berbasis dolar menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sementara negara-negara pengimpor energi tetap harus menghadapi harga minyak yang mahal.

Mata Uang Asia Kompak Melemah

Reuters mencatat mata uang emerging Asia turun ke level terendah multipekan pada perdagangan Kamis setelah keputusan The Fed.

Peso Filipina, baht Thailand, rupee India, ringgit Malaysia, dan sejumlah mata uang lain menjadi fokus investor.

Peso Filipina bahkan tercatat sebagai salah satu mata uang yang paling banyak diposisikan bearish dalam survei Reuters.

Baht Thailand juga menghadapi tekanan karena negara tersebut sangat bergantung pada impor energi, sementara harga minyak tinggi memperbesar beban eksternal.

Rupiah Masuk Sorotan

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang ikut diperhatikan pasar.

Investor melihat Indonesia menghadapi kombinasi tekanan dari dolar kuat, harga minyak tinggi, dan potensi arus modal keluar.

Meski demikian, Reuters mencatat sentimen terhadap rupiah membaik dibanding sebelumnya, walaupun nilainya masih melemah sekitar 6 persen sepanjang tahun.

Hal ini menunjukkan pasar tidak hanya melihat pergerakan kurs harian, tetapi juga menilai stabilitas kebijakan fiskal, respons Bank Indonesia, dan prospek pertumbuhan ekonomi.

Harga Minyak Jadi Masalah Besar

Harga minyak tetap menjadi salah satu faktor yang paling membebani mata uang Asia.

Banyak negara di kawasan, termasuk Indonesia, India, dan Thailand, merupakan importir bersih energi.

Ketika harga minyak naik, kebutuhan dolar untuk membayar impor ikut meningkat.

Hal tersebut dapat memperbesar permintaan valuta asing dan menekan mata uang domestik.

Reuters sebelumnya mencatat Brent masih berada di atas US$100 per barel meski mulai turun dari puncaknya.

Rupiah Pernah Diselamatkan BI Lewat Kenaikan Bunga

Tekanan terhadap rupiah bukan hal baru tahun ini.

Pada Juni 2026, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dalam langkah di luar jadwal reguler untuk menopang rupiah.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi prioritas penting bagi BI ketika volatilitas global meningkat.

Namun ruang kebijakan kini menjadi lebih rumit karena The Fed kembali mengetatkan kebijakan moneternya.

Dolar Kuat Bisa Tekan Impor dan Inflasi

Pelemahan rupiah memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar kurs.

Produk impor menjadi lebih mahal dalam rupiah, termasuk energi, bahan baku, mesin, elektronik, dan sejumlah komoditas pangan.

Bagi perusahaan dengan utang dolar, pelemahan rupiah juga meningkatkan beban pembayaran.

Jika berlangsung lama, tekanan kurs dapat ikut masuk ke inflasi domestik.

Mata Uang Asia Tidak Semua Tertekan Sama Besar

Meski tren umum melemah, dampak tidak seragam.

Rupee India, misalnya, sempat melemah tetapi kemudian bertahan relatif stabil karena intervensi bank sentral dan aliran dana portofolio.

Ringgit Malaysia mendapat sedikit dukungan dari surplus perdagangan elektronik.

Sementara Taiwan dan Korea Selatan memiliki basis ekspor teknologi yang membantu menopang mata uang mereka, meski tetap rentan terhadap dolar yang kuat.

Investor Masih Menunggu Arah The Fed Berikutnya

Perhatian pasar kini beralih ke langkah berikutnya dari The Fed.

Mayoritas pejabat bank sentral AS masih melihat peluang kenaikan bunga tambahan sepanjang 2026.

Jika suku bunga kembali naik, tekanan terhadap mata uang emerging Asia berpotensi berlanjut.

Sebaliknya, jika inflasi AS melandai dan The Fed mulai menahan diri, dolar dapat kehilangan sebagian kekuatannya.

Apa Artinya untuk Indonesia?

Bagi Indonesia, ada tiga hal yang perlu dipantau.

Pertama, arah rupiah terhadap dolar.

Kedua, respons Bank Indonesia terhadap volatilitas kurs dan arus modal.

Ketiga, harga minyak, karena semakin mahal energi, semakin besar tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan dolar.

Dengan kondisi global yang masih ketat, rupiah belum sepenuhnya keluar dari tekanan.

Namun pasar juga melihat ruang pemulihan tetap ada apabila stabilitas kebijakan domestik terjaga dan tekanan eksternal mulai berkurang.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja