Estimasi waktu baca: 5 menit

The Fed Resmi Naikkan Suku Bunga

CYRUSTIMES, JAKARTAFederal Reserve (The Fed) akhirnya resmi menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75–4,00 persen, Rabu (16/9/2026) waktu Amerika Serikat atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Keputusan tersebut diambil secara bulat 12-0 oleh Federal Open Market Committee (FOMC). The Fed menyatakan langkah itu diperlukan karena inflasi masih berada pada level tinggi, sementara aktivitas ekonomi Amerika Serikat tetap tumbuh solid.

Kenaikan ini menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed dalam lebih dari tiga tahun dan langsung memicu penguatan dolar AS di pasar global.

The Fed Naikkan Bunga ke 3,75–4,00 Persen

Dalam pernyataan resminya, The Fed menegaskan target federal funds rate dinaikkan seperempat poin dari sebelumnya 3,50–3,75 persen menjadi 3,75–4,00 persen.

The Fed menilai aktivitas ekonomi AS masih berkembang pada laju yang solid. Belanja domestik tetap kuat, produktivitas meningkat, investasi modal tetap tinggi, dan tingkat pengangguran relatif stabil.

Namun inflasi belum kembali ke target 2 persen.

“Inflation remains elevated,” tulis The Fed dalam pernyataan FOMC. Kebijakan kenaikan bunga disebut ditujukan untuk mempercepat kembalinya inflasi menuju sasaran 2 persen.

Dolar Langsung Naik ke Level Tertinggi Tujuh Minggu

Pasar langsung merespons keputusan tersebut.

Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam sekitar tujuh minggu terhadap sejumlah mata uang utama. Indeks dolar sempat naik ke sekitar 100,3, mendekati level akhir Juli.

Penguatan dolar ditopang oleh kenaikan yield obligasi Treasury AS tenor pendek setelah investor memperkirakan siklus pengetatan moneter belum selesai.

Yield Treasury tenor dua tahun bahkan sempat menyentuh sekitar 4,7153 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan pasar membaca keputusan The Fed sebagai sinyal yang cukup hawkish.

Warsh Buka Peluang Kenaikan Bunga Lagi

Ketua The Fed Kevin Warsh tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan bunga tambahan.

Proyeksi terbaru FOMC mengindikasikan mayoritas pejabat The Fed masih melihat ruang untuk setidaknya satu kenaikan bunga lagi pada 2026.

Goldman Sachs bahkan merevisi pandangannya dan kini memperkirakan kenaikan berikutnya bisa terjadi pada pertemuan Oktober.

Namun keputusan berikutnya tetap akan bergantung pada data inflasi, ketenagakerjaan, pertumbuhan ekonomi dan perkembangan harga energi.

Rupiah Langsung Tertekan

Dampaknya mulai terlihat di Indonesia.

Pada perdagangan Kamis pagi, rupiah dibuka melemah sekitar 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp17.739 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.696.

Penguatan dolar dan tingginya yield Treasury membuat aset berbasis dolar kembali lebih menarik bagi investor global.

Situasi tersebut dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Secara regional, sejumlah mata uang Asia juga melemah sekitar 0,1 hingga 0,4 persen setelah keputusan The Fed.

Mengapa Rupiah Rentan?

Ketika suku bunga AS naik, imbal hasil instrumen keuangan berbasis dolar ikut meningkat.

Investor global kemudian memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dana di obligasi atau aset AS.

Jika arus modal keluar dari pasar negara berkembang meningkat, permintaan dolar bertambah dan mata uang lokal berpotensi melemah.

Bagi Indonesia, tekanan menjadi lebih kompleks karena harga minyak dunia juga masih tinggi.

Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor.

Bank Indonesia Bisa Hadapi Tekanan Baru

Keputusan The Fed juga mempersempit ruang kebijakan Bank Indonesia.

BI sebelumnya sudah menaikkan suku bunga di luar jadwal pada Juni 2026 untuk membantu menahan pelemahan rupiah. Saat itu BI menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 5,50 persen.

Dengan The Fed kembali menaikkan bunga, selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat kembali menyempit.

Jika rupiah terus melemah, BI berpotensi menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Namun belum ada indikasi bahwa BI otomatis akan kembali menaikkan suku bunga hanya karena keputusan The Fed.

Pasar Saham Bergerak Campuran

Pasar saham Asia bergerak relatif terbatas setelah keputusan tersebut.

Investor menilai kenaikan suku bunga memang sudah cukup banyak diperkirakan sebelumnya.

Namun kekhawatiran tetap muncul karena The Fed memberi sinyal kebijakan ketat dapat berlanjut.

Reuters mencatat saham Asia bergerak tipis menguat sementara dolar tetap kuat. Di Wall Street, indeks saham sebelumnya sempat melemah setelah pengumuman FOMC.

Emas Justru Menguat

Menariknya, harga emas tidak terus melemah.

Pada perdagangan Kamis, emas spot naik sekitar 1,2 persen ke US$4.314,64 per troy ounce, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah hampir enam minggu.

Kenaikan itu terjadi ketika investor mencerna keputusan The Fed dan melihat ketidakpastian geopolitik masih tinggi.

Biasanya, suku bunga yang lebih tinggi menjadi tekanan bagi emas karena emas tidak memberikan bunga.

Namun ketegangan geopolitik dan kebutuhan lindung nilai membuat harga emas tetap mendapatkan dukungan.

Minyak Mulai Kehilangan Momentum

Harga minyak yang sebelumnya melonjak akibat gangguan pasokan juga mulai kehilangan sebagian momentumnya.

Reuters mencatat harga minyak turun setelah Arab Saudi menawarkan alternatif pengiriman minyak melalui Oman, sehingga kekhawatiran pasar terhadap pasokan sedikit berkurang.

Meski demikian, harga energi masih berada pada level tinggi dan tetap menjadi salah satu sumber tekanan inflasi global.

Kenaikan Pertama Sejak 2023

Keputusan September 2026 menandai perubahan penting arah kebijakan The Fed.

Selama lebih dari tiga tahun, bank sentral AS tidak menaikkan suku bunga.

Kini, meningkatnya inflasi, kuatnya konsumsi dan melonjaknya harga energi mendorong The Fed kembali memilih kebijakan pengetatan.

Langkah itu sekaligus menandai bahwa ekspektasi penurunan bunga yang sempat dominan pada awal tahun telah berbalik.

Apa yang Perlu Dipantau Setelah Ini?

Investor kini akan memperhatikan tiga faktor utama.

Pertama, arah inflasi AS. Jika inflasi tetap tinggi, ruang kenaikan bunga lanjutan semakin besar.

Kedua, harga minyak dan energi. Semakin lama harga minyak bertahan tinggi, semakin besar risiko inflasi kembali naik.

Ketiga, arah dolar dan yield Treasury. Jika keduanya terus menguat, tekanan terhadap rupiah dan pasar negara berkembang berpotensi berlanjut.

Untuk Indonesia, dampaknya akan terlihat terutama pada rupiah, arus modal asing, pasar obligasi dan kebijakan Bank Indonesia.

Dolar Kuat Jadi Risiko Baru bagi Indonesia

Kenaikan suku bunga The Fed bukan hanya isu ekonomi Amerika Serikat.

Bagi Indonesia, keputusan tersebut dapat mempengaruhi biaya impor, pasar keuangan, nilai tukar hingga keputusan suku bunga domestik.

Rupiah yang langsung melemah ke sekitar Rp17.739 per dolar setelah keputusan FOMC menjadi sinyal awal bahwa tekanan eksternal belum selesai.

Jika The Fed benar-benar kembali menaikkan bunga pada pertemuan berikutnya, dolar berpotensi tetap kuat lebih lama.

Karena itu, perhatian pasar kini bergeser dari pertanyaan “apakah The Fed akan menaikkan bunga?” menjadi “berapa kali lagi The Fed akan menaikkan bunga sepanjang 2026?”

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja