Estimasi waktu baca: 4 menit

Joanna Wietrzyk Atlet HYROX Viral Cepirit

CYRUSTIMES, BEIJING – Atlet HYROX asal Australia, Joanna Wietrzyk, akhirnya mengambil keputusan besar setelah insiden buang air besar tidak terkendali atau inkontinensia tinja alias “cepirit” yang dialaminya saat bertanding di HYROX Beijing menjadi viral.

Wietrzyk memutuskan mundur secara retroaktif dari perlombaan dan melepaskan poin yang diperolehnya, meski sebelumnya berhasil finis sebagai pemenang HYROX Pro Women kelompok usia 16–24 tahun.

Keputusan tersebut diumumkan setelah atlet Australia itu menyampaikan permintaan maaf atas tindakannya yang tetap melanjutkan perlombaan setelah mengalami insiden di tengah pertandingan.

Sempat Menang dengan Catatan 1 Jam 1 Menit

Insiden cepirit tersebut terjadi dalam HYROX Beijing, China, Sabtu, 12 September 2026.

Dalam perlombaan tersebut, Wietrzyk mengalami gangguan pencernaan hingga kehilangan kontrol buang air besar ketika perlombaan masih berlangsung.

Namun, ia tidak langsung berhenti.

Wietrzyk tetap melewati sejumlah bagian lomba dan menggunakan fasilitas pertandingan sebelum akhirnya menyentuh garis finis.

Data hasil perlombaan mencatat Wietrzyk menyelesaikan HYROX Pro Women dalam waktu 1 jam 1 menit 23 detik (1:01:23). Catatan itu menempatkannya di posisi pertama pada saat perlombaan selesai.

HYROX merupakan kompetisi kebugaran yang menggabungkan lari dengan berbagai latihan fungsional, termasuk sled push, rowing, burpee broad jump, lunges hingga wall ball.

Sebagian peralatan dan area pertandingan digunakan secara bergantian oleh para peserta.

Joanna Wietrzyk Akhirnya Minta Maaf

Video dan gambar Wietrzyk ketika terus bertanding kemudian menyebar luas di media sosial.

Perdebatan bukan hanya mengenai keputusan atlet untuk menyelesaikan perlombaan, tetapi juga menyangkut kebersihan serta risiko kontaminasi bagi peserta lainnya.

Pada Kamis, 17 September 2026, Wietrzyk akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial.

Ia mengatakan dirinya merasa sehat ketika memulai perlombaan dan tidak memiliki alasan untuk memperkirakan akan mengalami gangguan tersebut.

Namun setelah melihat kembali kejadian itu, Wietrzyk mengakui seharusnya dirinya berhenti.

“Looking back, I regret the decision to not have stepped off the track.”

Ia juga meminta maaf kepada masyarakat China, peserta lain, penonton serta penyelenggara HYROX yang terdampak insiden tersebut.

Batalkan Hasil dan Lepaskan Poin

Tak hanya meminta maaf, Wietrzyk mengambil langkah lebih jauh.

Ia menyatakan mundur secara retroaktif dari HYROX Beijing serta mengembalikan atau melepaskan seluruh poin yang diperolehnya dari perlombaan tersebut.

Artinya, kemenangan yang sebelumnya diperoleh Wietrzyk tidak lagi ia pertahankan sebagai hasil kompetitifnya.

Poin HYROX memiliki arti penting bagi atlet elite karena digunakan dalam sistem peringkat nasional maupun global.

Sebelum keputusan tersebut, kemenangan Beijing dilaporkan memberinya 105 poin Elite 15.

HYROX Akui Salah Tidak Hentikan Atlet

Kontroversi juga membuat penyelenggara HYROX mendapat sorotan.

Co-founder HYROX Moritz Fürste mengakui pihaknya melakukan kesalahan karena tidak mengambil tindakan secara langsung ketika kejadian berlangsung.

Menurutnya, HYROX kemudian melakukan evaluasi terhadap prosedur event sekaligus memperbarui aturan perlombaan.

Persoalan ini menjadi penting karena peserta HYROX menggunakan sejumlah area dan peralatan secara bergantian.

Kondisi tersebut membuat cairan tubuh maupun material biologis berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan dan kebersihan terhadap peserta berikutnya.

Aturan HYROX Berubah Setelah Insiden Beijing

Dampak insiden Wietrzyk tidak berhenti pada permintaan maaf dan pembatalan kemenangan.

HYROX kemudian mengubah aturan pertandingan.

Dalam aturan terbaru, Race Director dapat menghentikan seorang peserta apabila darah, muntahan, urine atau feses atlet menimbulkan risiko terhadap kesehatan atlet tersebut maupun peserta lainnya.

Atlet dapat ditarik dari perlombaan atas alasan medis apabila kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kontaminasi.

Perubahan tersebut menjadi salah satu dampak langsung paling signifikan dari kontroversi HYROX Beijing.

Fenomena Gangguan Pencernaan pada Atlet

Gangguan saluran pencernaan ketika melakukan olahraga dengan intensitas tinggi sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya asing dalam olahraga ketahanan.

Kondisi yang kerap disebut runner’s trots atau exercise-induced gastrointestinal distress dapat muncul dalam bentuk kram perut, keinginan buang air besar secara mendadak hingga diare.

Sejumlah faktor dapat memengaruhinya, antara lain intensitas olahraga, perubahan aliran darah menuju sistem pencernaan, dehidrasi, makanan hingga tekanan fisik selama kompetisi.

Namun dalam kasus Wietrzyk, kontroversi berkembang karena atlet tetap melanjutkan kompetisi setelah kejadian terjadi, sementara perlombaan menggunakan berbagai fasilitas bersama.

Kini Wietrzyk memilih mundur dari hasil HYROX Beijing dan mengatakan akan mengambil waktu untuk memulihkan diri serta merefleksikan kejadian tersebut.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja