Estimasi waktu baca: 4 menit

Rekomendasi Masker di Tengah Kabut Asap

Kabut asap akibat karhutla dapat membawa partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan. Kemenkes mengingatkan masyarakat memilih masker yang mampu menyaring partikel polutan dan memastikan masker terpasang rapat.

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA Kabut asap kembali menjadi perhatian masyarakat di tengah aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi tersebut membuat penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan.

Namun, tidak semua jenis masker memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel polusi udara.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merekomendasikan penggunaan masker yang mampu menyaring partikel kecil, terutama ketika kualitas udara sedang buruk. Dalam edukasi mengenai dampak polusi udara, Kemenkes menyebut masker KF94 atau KN95 dapat digunakan ketika masyarakat harus berada di luar ruangan saat polusi tinggi.

KF94 dan KN95 untuk Aktivitas di Luar Ruangan

Kemenkes menjelaskan bahwa masker yang digunakan ketika polusi udara tinggi sebaiknya mampu menyaring partikel halus.

Dalam rekomendasinya, Kemenkes menyebut KF94 dan KN95 sebagai jenis masker yang dapat digunakan ketika berada di luar ruangan.

Masker juga harus terpasang dengan baik dan menutup hidung serta mulut secara rapat. Tujuannya agar udara yang masuk tidak banyak melewati celah di sekitar masker.

Hal ini penting karena efektivitas masker tidak hanya ditentukan oleh jenisnya, tetapi juga oleh cara pemakaian.

Masker yang memiliki kemampuan filtrasi baik tetapi longgar di wajah tetap dapat mengurangi tingkat perlindungan karena udara dapat masuk melalui celah.

Bagaimana dengan Masker N95?

Kemenkes juga memiliki panduan khusus mengenai penggunaan masker saat terjadi asap kebakaran hutan.

Dalam panduan tersebut, N95 disebut mampu menyaring sekitar 95 persen partikel, terutama PM10, jika digunakan dengan teknik yang benar dan sesuai ukuran wajah.

Namun, Kemenkes memberikan sejumlah catatan penting.

Penggunaan N95 direkomendasikan terutama bagi orang yang harus berada di luar ruangan ketika kondisi asap cukup pekat. Masker tersebut perlu digunakan dengan pemasangan yang tepat agar kemampuan perlindungannya optimal.

Kemenkes juga mencatat N95 memiliki keterbatasan berupa rasa tidak nyaman dan penggunaan yang terbatas. Untuk jenis disposable, panduan tersebut menyebut penggunaan maksimal sekitar delapan jam.

N95 Tidak untuk Semua Orang

Ada hal penting yang sering terlewat ketika masyarakat membahas masker N95.

Dalam panduan Kemenkes mengenai asap kebakaran hutan, N95 tidak direkomendasikan untuk anak-anak, ibu hamil, lansia, pasien dengan penyakit kardiovaskular, serta pasien dengan penyakit paru kronis. Masker tersebut juga tidak ditujukan untuk penggunaan di dalam rumah.

Karena itu, masyarakat tidak sebaiknya menganggap semakin tinggi tingkat filtrasi masker berarti selalu semakin cocok untuk semua orang.

Pilihan masker perlu disesuaikan dengan kondisi udara, aktivitas, serta kondisi kesehatan pengguna.

Jangan Hanya Mengandalkan Masker

Menggunakan masker bukan berarti masyarakat bebas beraktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih pekat.

Kemenkes menganjurkan masyarakat memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika polusi tinggi, serta menutup ventilasi rumah, kantor, sekolah, atau tempat umum ketika kondisi udara buruk.

Untuk ruangan, Kemenkes juga merekomendasikan penggunaan penjernih udara atau air purifier sebagai salah satu upaya membantu membersihkan partikel polutan di dalam ruangan.

Dengan demikian, perlindungan dari kabut asap sebaiknya dilakukan secara berlapis: mengurangi paparan, memantau kualitas udara, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar, dan menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Masker Medis Tetap Lebih Baik daripada Tanpa Perlindungan

Dalam panduan Kemenkes terkait asap kebakaran hutan, masker N95 memang disebut memiliki kemampuan filtrasi partikel yang baik jika digunakan dengan benar.

Namun, Kemenkes juga mencatat bahwa penggunaan N95 dan masker bedah dalam sejumlah penelitian tidak menunjukkan perbedaan kejadian ISPA ketika N95 digunakan dengan teknik yang tidak tepat. Artinya, cara memakai masker sangat menentukan manfaat perlindungannya.

Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya membeli masker dengan label tertentu.

Masker harus digunakan secara benar, menutup hidung dan mulut, serta sebisa mungkin tidak menyisakan celah besar di sisi wajah.

Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?

Paparan kabut asap dapat menimbulkan keluhan pada saluran pernapasan. Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah terpapar polusi sebaiknya tidak mengabaikan gejalanya.

Kemenkes mengimbau masyarakat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami keluhan pernapasan.

Terlebih bagi kelompok rentan, pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi langkah penting ketika kualitas udara memburuk.

Di tengah kabut asap, masker memang dapat membantu mengurangi paparan partikel. Namun, mengurangi waktu berada di luar ruangan tetap menjadi langkah utama ketika kualitas udara sedang buruk.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

AA3F4864-5C8D-4C02-B0C2-F53C75889A03
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja